Ali Sina Mendebat Farida Majid, Orang Yang Mengklaim Dirinya Sebagai Seorang Muslim Modernis Sekuler

Diposkan oleh Ali Sina pada 12 Juli, 2011

Ini adalah respon terhadap seorang wanita Bengali yang membela Islam, sementara ia mengklaim bahwa ia bekerja mengupayakan supaya negaranya menjadi negara yang sekular. Saya mengirimkan sebuah copy mengenai hal itu untuk teman-teman Bengali saya yang berpikiran bebas (free thinkers); dan salah seorang diantara mereka memutuskan untuk mengunggahnya dalam NFB.

20 Mei 2001

Saudari Farida Majid,

Saya mengunggah the images of the Prophet dalam website saya, yang menurut kelompok Sunni merupakan penghujatan besar. Tetapi saya mengatakan bahwa orang-orang Iran yang melukisnya, melakukannya karena kasih dan pengabdian. Sebagai reaksi untuk itu, saya menghargai kebaikan anda yang telah menulis: “Memang benar para pelukis gambar-gambar Persia ini tidaklah menghujat. Kenyataannya, keindahan gambar-gambar ini bersumber dari kesalehan murni yang ada dalam hati para pelukis tersebut. Lagipula, inilah pertama kalinya Ali Sina mengatakan sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam lubuk hatinya yang keras, hati lainnya yang lebih lembut dan lebih manusiawi”.

Ijinkan saya berterimakasih pada anda yang telah berhasil melihat hati saya yang lebih lembut, dan saya berani menjamin bahwa saya hanya mempunyai sati hati. Saya juga minta maaf karena tulisan saya mengenai Islam (lihat: about) tidak terlalu anda sukai. Namun demikian,  jika anda memperhatikan dengan seksama, anda juga akan melihat bahwa semua tulisan saya juga didasari oleh kasih. Tidak ada sejumput pun kejahatan dalam diri saya dan saya tidak mempunyai motivasi yang tersembunyi. Sudah tentu anda dapat menuduh bahwa saya benar-benar telah tersesat. Saya akui ini mungkin saja terjadi, karena orang bisa saja sangat keliru namun tetap sangat tulus. Kenyataannya, banyak orang yang masuk dalam kategori ini. Mayoritas orang; DENGAN TULUSNYA percaya akan jalan-jalan mereka yang bengkok dan sesat, melakukan kejahatan, semuanya dalam nama kebenaran, dengan keyakinan dan nurani yang jernih. Bagaimana saya dapat yakin bahwa saya tidak termasuk salah seorang di antara mereka? Sudah tentu oleh karena saya mewaspadai kemungkinan ini, maka saya tidak melakukan kejahatan, tepatnya saya tidak membunuh orang, menganiaya atau menyakiti mereka dalam bentuk apapun, atau berusaha memberlakukan kebenaran menurut versi saya sendiri. Saya juga terbuka dan menantikan seseorang untuk datang dan menuntun saya ke jalan yang lebih baik. Dan saya juga mengatakan hal itu dengan ketulusan.

Namun demikian, oleh karena orang seperti itu masih belum muncul, dan orang-orang yang berusaha untuk itu sudah menyerah terlalu cepat atau malah akhirnya menghina saya, dan bahkan ada pula yang menantang saya untuk saling mengutuki untuk menentukan siapa yang sesungguhnya telah mengatakan kebenaran (Inilah kebiasaan nabi. Lihat Sura 3:61. Saya tidak suka mengutukin orang), walaupun saya masih belum menemukan jalan yang lebih baik. Namun demikian, jika ada orang yang dapat membuktikan apa yang saya katakan itu absurd, saya tidak akan ragu untuk segera mengubah posisi saya dan menjadi muridnya seumur hidup saya, atau hingga ada orang lain lagi yang dapat menunjukkan pada saya jalan yang lebih baik lagi.

Kisah mengenai kunjungan anda ke Iran membuat saya terkenang akan masa lalu dan percayalah saya tidak kuasa menahan air mata membanjiri mata saya. Hari-hari ini saya merasa lebih sentimentil terhadap ibu pertiwi yang saya kasihi karena ia sedang sakit parah, ia telah ditawan oleh seekor naga jahat berkepala 12 dan segerombolan penjahat busuk yang membunuh, menyiksa dan menganiaya anak-anaknya; kejahatan yang belum pernah dilakukan siapapun sebelumnya. Hari-hari kejayaannya telah sirna dan kehinaan telah menimpanya. Sebuah kehinaan yang telah berlangsung selama 1400 tahun.

Diagnosa anda mengenai apa yang salah di Iran sebelum revolusi dan apa yang tidak beres setelah revolusi, memang benar adanya. Tetapi saya tidak setuju saat anda menuduh para pemikir bebas Bengali dan berkata: “Di tengah-tengah kekacauan politik yang terjadi belakangan ini di Bangladesh, tindakan menyerang Islam adalah permainan yang berbahaya”. Menurut saya, pengakuan apapun terhadap Islam sebagai sebuah agama yang sah – otomatis akan memperkuat kekerasan yang terkandung di dalamnya. Kekerasan yang ada dalam Islam bukanlah sekadar masalah opini. Sudah jelas bahwa Quran secara keseluruhan adalah pesan/ajaran mengenai kekerasan, membunuh orang-orang yang tidak beriman, intoleransi, pengendalian pikiran, kebencian terhadap perempuan, penganiayaan terhadap perempuan, dan perang.

Tidak mungkin orang yang pikirannya tidak bias dapat membaca pesan kebencian dari ayat-ayat Quran yang provokatif, dan masih dapat menyebutnya sebagai sebuah “kitab damai”. Jika anda mempunyai keraguan, silahkan lihat pada: link ini, dan ini hanyalah sebuah contoh.

Jadi, ketika cendekiawan yang cinta damai seperti anda mengakui Islam dan merekomendasikannya, orang-orang yang mendengarkan anda dan menilai penilaian anda, membaca Quran dan mendapatkan perintah-perintah mereka dari sana dan bukan dari anda. Oleh karena itu, jika mereka mengikuti perintah-perintah itu dan bertindak sesuai dengan perintah-perintah itu dengan kekerasan dan kebrutalan, mereka tidak dapat disalahkan; andalah dedengkotnya. Anda mengatakan kepada mereka bahwa Quran adalah perkataan-perkataan Tuhan dan Quran mengajari mereka untuk membenci dan membunuh. Anda tidak perlu menjadi seorang ahli bedah otak untuk merangkaikannya. Dalam artikel saya: Who Feeds Fundamentalism,  saya membahas hal ini dan juga mengutip sebuah laporan dari majalah Time Singapura yang membuktikan pendapat saya. Laporan itu memaparkan kisah seorang wanita terpelajar yang berasal dari sebuah keluarga Muslim baik-baik, yang menjadi seorang teroris, melemparkan pewarna ke wajah wanita yang tidak mengenakan jilbab, mendorong suaminya untuk menikah lagi. Dan membesarkan putra-putranya untuk menyukai senjata, dan berharap dapat membuat mereka menjadi teroris. Mengapa? Karena ia membaca sebuah buku mengenai beberapa wanita Barat yang telah memeluk Islam! Itulah pemicu yang dibutuhkannya untuk menjadi seorang teroris.

Sahabatku, tolonglah pahami bahwa Islam tidak sama dengan kekristenan, Zoroastrianisme atau agama-agama lainnya. Islam adalah agama yang mengajarkan kebencian. Kebencian adalah pesan Islam. Kebencian adalah esensi Islam. Segala sesuatu yang lainnya dalam Islam, semua ritualnya dan dogma-dogmanya mendorong anda kepada tujuan tertinggi, yaitu kebencian.

Hingga anda menyangkali fakta ini dan berusaha untuk membayangkan sebuah Islam yang damai – yang tidak eksis dimanapun kecuali dalam imajinasi anda sendiri, anda tidak akan mampu melihat bahwa Islam adalah sebuah penghalang bagi kedamaian, demokrasi, peradaban dan kemajuan di negara-negara kita.

Anda benar sekali dalam menjelaskan kesalahan-kesalahan para cendekiawan Iran yang telah mempercayai para ulama dan membiarkan revolusi dibajak oleh kaum fundamentalis. Nah, para cendekiawan ini melakukan kesalahan yang sama persis dengan yang anda lakukan sekarang. Mereka mengandalkan orang-orang Muslim, berpikir bahwa pada akhirnya mereka akan mengambil alih pemerintahan dan akan mengarahkan negara kepada demokrasi dan kebebasan. Jika saja mereka bijak, tentu mereka tahu ini hanyalah mimpi di siang bolong. Siapapun yang mengenal Islam tahu – bahwa Islam dan demokrasi tidak dapat berdampingan. Berusaha membuat Islam menjadi demokratis adalah seperti berusaha menjadikan sebuah kotak persegi menjadi bulat. Anda akan lebih berhasil membuat seekor hyena menjadi vegetarian daripada membuat Islam menjadi toleran.

Bagaimana mungkin anda, dari sekian banyak orang yang telah hidup di Barat selama bertahun-tahun dan mempunyai kualifikasi akademis – dan berada di kalangan kaum cendekiawan, tidak dapat melihat bahwa andalah yang sedang memainkan permainan yang berbahaya dengan menyanjung Islam; sebuah agama yang menganjurkan kebencian dan pembunuhan? Saya dapat memaafkan anda untuk itu jika anda adalah seorang Muslim yang tidak terlalu terpelajar. Tetapi kurangnya kepekaan anda dalam hal ini, sekalipun anda mempunyai banyak ijazah dan gelar, sangat tidak bisa saya mengerti!

Saya meminta anda menghormati saya dan membaca artikel saya Who Feeds Fundamentalism. Kemudian silahkan menyurati saya dan katakan pada saya apakah saya tidak dibenarkan menganggap ANDA bertanggung-jawab atas kebangkitan fundamentalisme Islam, atas kejahatan-kejahatan Taliban, atas kebrutalan para Mullah Iran, atas pemboman World Trade Center dan atas peledakan bis-bis yang ditumpangi para turis asing di Mesir. Sesungguhnya, saya tidak menganggap kaum fundamentalis yang sudah dicuci otaknya itu sebagai pihak yang bertanggung-jawab melakukan kejahatan-kejahatan tersebut! Mereka itu bebal. Mereka sudah dicuci otaknya. Mereka sendiri adalah korban. Tanggung-jawab kejahatan-kejahatan mereka, kebodohan dan kekerasan mereka langsung ada di pundak ANDA. Andalah yang mengatakan pada mereka bahwa Islam adalah sesuatu yang baik. Andalah yang menjunjung kitab yang dipenuhi dengan kebencian itu dan menyebutnya sebagai wahyu ilahi. Dan anda mempunyai gelar PhD. Anda seorang terpelajar dan seorang cendekiawan yang dihormati. Sejumlah besar orang Muslim yang bebal dan tidak berpendidikan memandang pada anda. Mereka memercayai anda dan meyakini penilaian anda. Mereka beranggapan bahwa oleh karena anda telah pergi ke Barat dan memperoleh gelar, tentunya anda tahu betul apa yang anda katakan. Jika anda mengatakan pada mereka bahwa Quran adalah sebuah kitab dari Tuhan, maka pastilah demikian. Jika anda meyakinkan mereka bahwa kitab itu ilmiah, maka mereka akan mempercayainya. Jika anda mengatakan pada mereka bahwa kitab itu adalah sebuah mujizat, mereka tidak akan mempertanyakan penilaian anda. Sejumlah besar orang tidak berpendidikan yang bebal itu memandang pada anda agar anda memberitahu mereka apa yang benar. Mereka mengambil konfirmasi untuk diri mereka dari anda. Tetapi anda mengatakan pada mereka agar mereka mendapatkan instruksi-instruksi bagi mereka dari Quran; kitab yang sangat terkebelakang dan primitif itu, yang mengajarkan mereka untuk membenci,  membunuh, menjalankan tirani dan melanggar hak-hak azasi manusia, karena Allah ingin agar mereka bersikap keras terhadap orang-orang tidak beriman, menindas kaum wanita dan penuh kebencian terhadap semua orang non Muslim.

Sahabatku, anda tidak dapat cuci tangan dari tanggung-jawab anda. Hendaknya anda tidak berasumsi bahwa saya berlebihan ketika saya menyebut anda bertanggung-jawab. Saya benar-benar menganggap anda bertanggung-jawab atas kematian-kematian yang dilakukan kaum fundamentalis Islam dan saya menuntut agar anda berhenti mendukung terorisme. Dengan menyanjung Islam, anda menjunjung terorisme – bahkan anda hanya bermulut manis terhadap perdamaian. Saya mohon anda menarik dukungan anda terhadap Islam, doktrin kebencian ini. Biarkanlah ia mati. Mari kita membunuhnya bersama-sama, karena kalau Islam tidak mati maka kemanusiaan akan mati.

Demo Kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) – Menuntut Penghapusan Negara Israel

Pembantaian Warga Ahmadiyah di Cikeusik-Tangerang, Provinsi Banten - Pada 6 Februari 2011

Islam sama dengan Naziisme. Kedua doktrin ini mengajarkan kebencian. Yang satu menjunjung supremasi suatu ras dan yang satunya supremasi agama. Dalam esensinya, keduanya mempercayai persepsi yang sama. Keduanya menganjurkan peperangan. Keduanya memecah-belah dan bersifat sektarian. Keduanya lahir dari pikiran seorang yang karismatis, namun juga orang gila yang narsistik dan megalomaniak. Bagaimana anda dapat memuji kaum cendekiawan Nazi yang menjunjung doktrin kebencian dan menyebutnya sebagai “pengajaran kasih”? Bagaimanakah anda mendefinisikan seseorang yang membela Naziisme, yang menghabiskan waktu dan uangnya untuk mempromosikan doktrin itu? Apakah orang ini benar-benar meyakini Naziisme sebagai sebuah doktrin yang mengajarkan damai atau tidak, itu tidaklah relevan. Faktanya, dukungannya terhadap Naziisme menjadikannya biang kerok atas semua kejahatan yang dilakukan oleh Nazi. Ia memikul tanggung-jawab, sekalipun secara pribadi ia belum pernah membunuh siapapun dan belum pernah sekalipun menginginkan kematian siapapun. Ia mendukung sebuah doktrin dan sebuah filosofi yang menganjurkan kebencian dan pembunuhan, dan itulah akar permasalahannya.

Nah sekarang sahabatku, anda tidaklah terlalu berbeda. Anda mendukung Islam dan itu menjadikan anda biang kerok atas semua kejahatan yang dilakukan orang Muslim, yang diinspirasikan oleh kitab suci mereka. Anda mengatakan kepada mereka bahwa Islam adalah agama yang baik, dan Quran juga adalah kitab yang baik. Tetapi Quran mengajari mereka untuk membunuh orang-orang yang tidak beriman, memandang orang-orang non Muslim sebagai najis (tidak suci), memukuli istri-istri mereka, memperlakukan kaum wanita dengan penghinaan dan menyebut mereka kurang cerdas, mengobarkan perang terhadap non Muslim, tidak boleh berteman dengan orang Kristen dan orang Yahudi, dan terus-menerus hidup dalam kebencian, keterpisahan dan ketidakpercayaan terhadap orang lain. Bagaimana anda dapat memandang wajah anda sendiri di cermin? Tidakkah hati nurani anda mengusik anda? Tidakkah anda merasa bersalah karena telah menyesatkan orang dan menganjurkan mereka untuk tetap berada dalam kebebalan mereka?

Apakah saya salah? Benarkah Islam di atas segala sesuatu? Maka buktikanlah itu pada saya. Saya akan menerimanya jika anda benar-benar dapat menunjukkan pada saya bahwa Islam mengajarkan kasih, kesatuan, persaudaraan dengan semua umat manusia, kesetaraan hak antara pria dan wanita, dan bahwa Islam adalah agama damai. Tetapi jika semua bukti itu menunjukkan hal yang sebaliknya, saya mohon anda tidak berusaha membodohi diri anda sendiri dan janganlah berdusta tentang hal itu.

Oleh karena itu, saya berjanji pada anda, saya tidak akan lagi “menolak Islam” (seperti yang anda katakan), dan menjadi seorang Muslim yang memperjuangkan semua cita-cita Islam, jika anda dapat membuktikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan damai, kasih dan kesatuan seluruh umat manusia. Dapatkah anda membuat janji suci, yang sama dengan keberanian bahwa jika saya dapat menunjukkan pada anda bahwa Islam tidaklah seperti yang anda pikirkan maka anda akan meninggalkannya? Maukah anda meninggalkan Islam jika saya dapat membuktikan bahwa Islam adalah penyebab keterbelakangan, pertikaian dan fanatisme? Masihkah anda tetap menyebut diri anda seorang Muslim jika saya dapat membawa bukti bahwa Islam adalah doktrin kebencian, intoleransi dan perang? Ini adalah sebuah tantangan. Maukah anda menerimanya? Bersediakah anda meneliti dengan seksama klaim-klaim Muhammad dengan adil dan pikiran yang terbuka?

Kita hanya hidup satu kali. Hendaknya kita tidak menyia-nyiakan hidup yang berharga ini dengan mengejar bayangan. Dengan kemurahan Tuhan, Surga atau Alam Semesta (terserah anda mau menyebutnya apa), anda dan saya telah diberikan hak istimewa untuk mempengaruhi banyak orang. Hak istimewa ini diikuti dengan tanggung-jawab. Orang-orang seperti kita membangun dunia ini dan membentuk takdir manusia. Tegakah anda mengabaikan tanggung-jawab anda? Tidakkah semestinya kita mempertanyakan, apa yang sebagai sebuah fakta telah diberikan pada kita saat kita masih kanak-kanak, yang harus kita terima dengan penuh kepercayaan – mungkin saja sebenarnya tidak demikian adanya? Menurut saya kita harus melakukannya. Menurut saya kita harus berhenti dan melihat kemana kita pergi sebelum kita melangkah lebih jauh. Mungkin saja kita sedang menuju medan yang berbahaya dan bisa jadi kita sedang menimpakan pada diri kita sendiri musibah besar yang tidak terkira. Mari berhenti sejenak. Mari kita berpikir, sebelum kita mengambil satu langkah lagi.

Salam hangat

Sahabatmu yang “berhati lembut”

 

Ali Sina

 

26 Mei 2001

Saudara Ali Sina,

Saya senang anda langsung membalas surat saya. Saya juga senang kita membicarakan kasih dalam hati kita. Tanpa kasih tidak akan ada komitmen sejati kepada umat manusia secara keseluruhan, kepada dunia tempat tinggal kita, atau kepada keadilan dalam masyarakat.

Hari ini, hati saya terasa sangat dibebani dengan kecemasan berkenaan dengan ayah saya yang sudah tua, yang sudah sangat rapuh sehingga saya harus meninggalkan segala sesuatu dan terbang ke Bangladesh. Saya harus memberitahu anda bahwa ayah saya, seorang insinyur, menganggap dirinya sendiri sebagai ‘seorang yang ilmiah’ sepanjang hidupnya, dan telah membesarkan dua putrinya tanpa pendidikan religius apapun. Saya bukanlah seorang Muslim yang bertakwa, walau saya juga tidak se-ateis ayah saya.

Oleh karena itu, saya minta maaf, saya tidak dapat menyambut tantangan yang anda berikan pada saya. Juga, saya tidak benar-benar terlibat dalam urusan membela atau menyanjung Islam. Ada orang-orang yang melakukannya secara reguler. Sebagai seorang sarjana, saya percaya bahwa tugas saya adalah untuk berpikir analitis, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan kemudian menemukan jawaban-jawabannya dengan segenap kemampuan saya.

Oleh karena saya dibesarkan dengan berbagai latar-belakang budaya, dan juga perjalanan-perjalanan yang saya lakukan keliling dunia, saya belajar untuk menghargai semua orang dari berbagai latar belakang, termasuk agama mereka. Berdasarkan definisinya, agama adalah suatu hasil karya budaya. Banyak kecerdasan, emosi dan imajinasi yang ditanamkan dalam upaya menghasilkan karya budaya ini. Itulah sebabnya mengapa saya suka mempelajari agama berbarengan dengan politik, sejarah dan literatur. Saya tidak berhak menghina suatu agama jika saya mengklaim diri sebagai anggota keluarga besar umat manusia. Menyebutkan sesuatu hal dengan tujuan menghinanya adalah perbuatan yang sangat tidak logis dan sama sekali tidak sesuai dengan prinsip maupun hukum-hukum peradaban. Ketika kejahatan dilakukan dalam nama suatu agama, yang akan saya lakukan adalah menganalisa kondisi-kondisi, latar-belakang politik, sejarah dan sosial kejahatan itu dan para pelakunya, alih-alih menyalahkan agama tersebut mentah-mentah.

Analisa semacam itu memerlukan pengetahuan; pengetahuan yang sangat banyak. Dalam dunia global yang kompleks ini, setiap peristiwa terkait secara global. Maka pengetahuan yang terbatas atau bias tidak cukup untuk melakukan analisa yang mendalam yang dapat bermanfaat bagi komunitas. Menghina sebuah agama dengan terang-terangan sama seperti mengekspos kebebalan dasar orang-orang yang berkecimpung dalam ketidakberadaban.

Saya memahami kepedihan yang anda rasakan mengenai negerimu, dan itulah sebabnya mengapa saya ingin berbagi dengan anda kenangan-kenangan menyenangkan dari kunjungan saya ke Iran. Harapan saya adalah hari-hari yang gelap itu akan berlalu secepatnya, dan fajar yang baru akan muncul.

Mengenai lagu Kermanshahi itu, orang Afghanistan mengetahui lagu rakyat itu dengan sangat baik, mungkin karena Kermanshah lebih dekat dengan perbatasan Afghanistan.

Tolong doakan negara saya agar baik-baik saja, karena sama seperti orang-orang Iran, dan sama seperti orang-orang awam dimanapun, orang Muslim Bengali adalah orang-orang sekuler, terutama karena kami adalah negara yang mempunyai keragaman agama selama lebih dari 900 tahun. Politik-politik kotor kaum Islamis menghancurkan budaya tradisional negara kami. Dan saya juga merasa pedih saat saat menyaksikan para politisi kami yang korup dan tidak efektif – tidak mampu memeriksa gelombang politik kotor kaum Islamis ini.

Hormat saya,

Farida Majid.

 

27 Mei 2001

Saudari Farida.

Saya senang sekali melihat anda tidak kesal pada saya karena saya bersikap keras terhadap Islam dan anda masih menyebut saya sebagai saudara. Ini adalah sebuah kehormatan untuk saya.

Saya prihatin mendengar  kondisi kesehatan ayah anda dan saya berharap ia akan segera pulih dan anda akan kembali merasa tenang. Saya juga terkesan mengetahui bahwa ayah anda adalah seorang yang berpikiran bebas. Keluarga saya religius dan saya dibesarkan sebagai orang yang beriman. Kenyataannya, saya adalah orang yang paling religius di antara seluruh keluarga besar saya (para sepupu dan para sepupu kedua). Saya dikenal sebagai akhoond Ali (mullah Ali), ketika saya masih menjadi siswa baru di sekolah lanjutan atas karena saya selalu berbicara mengenai hal-hal religius. Tetapi sudah tentu Islam yang saya anut bukanlah Islam yang sejati. Saya mengarangnya dalam benak saya berdasarkan keinginan saya sendiri. Namun demikian, kakek saya nampaknya juga adalah seorang yang berpikiran bebas. Dia adalah seorang filsuf dan menganut mistik. Walaupun saya belum pernah bertemu dengannya, saya senang karena mengetahui bahwa saya mengikuti jejaknya. Rasanya seperti memikul obornya dan saya berharap saya akan membawanya lebih jauh lagi.

Anda mengatakan bahwa anda bukanlah seorang Muslim yang bertakwa walaupun anda tidak se-ateis ayah anda.

Nah, ijinkan saya mengatakan pada anda bahwa saya juga bukanlah benar-benar seorang yang ateis seperti anggapan banyak orang. Sudah tentu saya pun bukan seorang yang mempercayai Tuhan. Maksud saya, pandangan-pandangan saya mengenai alam semesta ini tidaklah bersifat materialistik. Saya percaya pada sebuah realita yang menembus segala sesuatu dan saya menyebut realita itu sebagai: Prinsip Tunggal.

Sedang untuk tantangan itu, sesungguhnya saya tidak ingin kedengaran terlalu konfrontatif. Dalam sebuah perdebatan, orang yang banyak belajar adalah yang menjadi pemenang. Dengan semangat inilah saya memulai perdebatan saya.

Anda menulis, “Sebagai seorang sarjana saya percaya bahwa tugas saya adalah berpikir analitis, yaitu menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan kemudian menemukan jawaban-jawabannya dengan segenap kemampuan saya”.

Saya salut pada anda untuk hal itu. Sebagai seorang pelajar, ini pun adalah tujuan saya. Jika anda tidak ingin menjadi seorang apologis Islam, saya mengerti. Tetapi oleh karena pikiran-pikiran mulia anda yang diekspresikan di atas, menurut saya adalah suatu keharusan bagi kita berdua untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan saling menolong untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang benar.

Menurut pendapat saya, menanyakan apakah Islam adalah sumber keterbelakangan dan pelecehan-pelecehan hak azasi manusia di negara kita adalah pertanyaan yang sangat penting. Kita belum pernah diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ini. Tetapi kini kita dapat menanyakan hal itu dan tidak takut akan menghadapi eksekusi, menurut saya inilah saatnya kita bertanya pada diri kita sendiri untuk pertama kalinya: Apakah Islam itu benar? apakah Islam menolong bangsa kita untuk mengalami kemajuan dalam bidang intelektual, moral, spiritual, ilmiah, politik, budaya dan ekonomi? Apakah Islam benar-benar merupakan biang kerok atas kekacauan sosial, perang dan pergolakan-pergolakan di negara kita? Apakah Islam bertanggung-jawab dalam memecah-belah India yang jaya menjadi tiga bangsa yang penuh pertikaian, dan kematian jutaan orang yang tidak berdosa? Apakah Islam bertanggung-jawab atas kekacauan di Afghanistan, Iran, pergolakan di Kashmir, Filipina dan neraka di Palestina, anarki di Algeria, pelecehan hak azasi manusia di Mesir, pembunuhan-pembunuhan demi kehormatan di Pakistan, dan kebrutalan di Arab Saudi?

Nah, jawaban untuk semua pertanyaan itu bisa jadi tidak. Islam mungkin saja timbul tak bercacat setelah pertanyaan itu. Tetapi kita tidak akan pernah tahu itu jika kita tidak menanyakannya. Jika anda yakin Islam tidak bersalah, maka semestinya tidak ada salahnya mencerahkan orang-orang yang mempunyai keraguan-keraguan akan hal itu. Mengapa tidak mengkonfrontir para pengkritik dan merespon keprihatinan mereka? Mengapa menyerang mereka? Mengapa membunuh karakter mereka? Mengapa memenjarakan dan membunuh mereka?

Anda menulis bahwa anda tidak berhak menghina agama dan menambahkan “Menyebut satu agama tertentu dengan tujuan menghina adalah perbuatan yang sangat tidak logis dan sama sekali tidak mengikuti prinsip maupun hukum-hukum peradaban”. Saya sangat setuju dengan anda. Tidak seorang pun boleh menghina agama orang lain, merendahkan para pengikutnya, atau – kiranya dijauhkan Tuhan – memaksa mereka untuk meninggalkan iman mereka. Praktek ini tidak beradab, sangat tidak dapat diterima dan harus dilarang. Itulah alasan utamanya mengapa saya ingin menghapuskan Islam. Islam menghina agama yang lain. Muhammad sendiri mencemooh agama orang Quraish sedemikian rupa sehingga mereka pergi menemui Abu Talib, paman Muhammad yang sudah tua, dan mengeluh:

Keponakanmu telah berbicara sangat lancang mengenai dewa-dewa kami dan agama kami: dan telah menghina kami sebagai orang-orang bodoh, dan mengatakan bahwa nenek moyang kami sudah tersesat. Sekarang, hendaknya engkau membalaskan dendam kami terhadap musuh kami; atau, (engkau pun mengalami hal yang sama dengan kami) tinggalkanlah dia agar kami merasa puas).” [Muir, v. 2, h. 162]

Muhammad tidak berhenti sampai di situ. Ia menyerang Mekkah dan ia menajiskan dan menghancurkan dewa-dewa mereka. Taliban mengikuti teladan nabi mereka ketika mereka menghancurkan patung Budha di Bamyan. Saya mempunyai sekumpulan ayat Quran. Silahkan memeriksa ayat-ayat tersebut dan anda akan melihat bagaimana Muhammad melanggar prinsip-prinsip mulia yang anda junjung dan mengapa orang Muslim yang mengikuti ajaran-ajaran itu menjadi pelanggar hak azasi manusia nomor satu. Kami, para pemikir bebas, tidak menghina Islam. Saya telah membaca banyak disertasi hebat yang ditulis oleh para pemikir bebas Bengali yang hebat mengenai Islam. Saya juga mengisi situs saya dengan beberapa artikel tersebut.  Menurut saya, semua itu ditulis dengan bobot kesarjanaan dan diekspresikan secara logis. Saya belum pernah menemukan satu artikel dimana penulisnya menghina Islam atau pendirinya. Di sisi lain, Muhammad menghina semua orang. Ia mengutuki mereka dan memerangi mereka, ia membunuh mereka, ia membuang mereka, ia memperbudak mereka, dan ia mengatakan pada mereka bahwa mereka akan masuk neraka. Muhammad bertindak lebih dari sekadar menghina. Ia menyiksa orang yang tidak percaya pada agama yang diajarkannya. Orang Muslim pun melakukan hal yang sama. Keputusan Taliban bahwa orang Hindu di Afghanistan harus mengenakan tanda pengenal bukanlah hal yang baru dalam Islam. Kaum Dhimmi senantiasa harus membedakan diri mereka dalam negara-negara Islam, sehingga mereka tidak mencemari (menajiskan) seorang Muslim dengan membiarkan setetes air hujan pun yang mengenai mereka kemudian terciprat kepada si Muslim.

Kita harus menghentikan pelecehan dan penghinaan ini. Islam mengajarkan diskriminasi; Islam mengajarkan kebencian; Islam menghina dan melecehkan orang-orang yang beragama lain. Sebagai seorang humanis tentu anda ingin menghentikan hal itu. Jika anda tidak menyetujui tindakan menghina agama orang, anda harus berpihak pada kami dan memerangi doktrin apapun yang menghina agama lain.

Anda menulis: “Ketika kejahatan dilakukan atas nama agama, saya akan terlebih dahulu menganalisa kondisi-kondisi, latar-belakang politik, sejarah dan sosial kejahatan tersebut dan para pelakunya, alih-alih menyalahkan agamanya mentah-mentah”.

Sebagai seorang yang terpelajar anda tahu bahwa ini bukanlah sebuah metode yang ilmiah. Mengapa anda harus beranggapan bahwa segala sesuatu yang lain dapat bertanggung-jawab dan menyingkirkan agama? Mengapa anda menyingkirkan agama dari masalah ini? Mungkin sebenarnya itulah sumber masalahnya. Mungkin agamalah yang menjadi biang keroknya dan bukannya latar belakang politik, sejarah atau sosial. Mengesampingkan agama adalah tindakan yang tidak logis. Nalar mengatakan agar anda memasukkan agama di antara para tersangka dan memulai investigasi anda dari awal lagi, dengan pikiran yang tidak bias, bebas dari ide-ide yang sudah ada sebelumnya dan terbuka terhadap hasilnya, apapun itu. Mungkinkah Islam bertanggung-jawab atas terjadinya keterbelakangan historis bangsa-bangsa Islam? Apakah Islam mempengaruhi situasi sosial dan politik negara-negara Muslim? Bagaimana kita dapat menyingkirkannya dari analisa penting seperti itu?

Anda menulis; “Analisa seperti itu membutuhkan pengetahuan – pengetahuan yang sangat banyak. Dalam dunia yang kompleks seperti ini, setiap peristiwa terkait secara global. Maka pengetahuan yang terbatas atau bias tidaklah cukup untuk melakukan analisa yang mendalam yang dapat bermanfaat bagi komunitas”.

Disamping itu, hal ini membutuhkan pengetahuan. Pengetahuan adalah obat penawar yang terbaik bagi kebodohan. Walaupun faktanya saya setuju dengan anda bahwa kita membutuhkan pengetahuan, dan semakin banyak akan semakin baik, untuk memverifikasi benar atau tidaknya sebuah agama dan manfaatnya bagi masyarakat, anda tidak membutuhkan terlalu banyak pengetahuan. Agama telah menjadi sangat kompleks. Terlalu banyak orang yang telah menulis hal-hal mengenai agama dan filsafat, mazhab dan institusi telah diciptakan di sekitar agama sehingga tugas ini nampaknya terlalu rumit. Dalam realita, tidaklah demikian. Yang kita perlukan hanyalah membaca kitab suci mereka. Siapapun yang membaca Quran dengan pikiran terbuka dan tanpa prasangka dapat melihat bahwa kitab-kitab ini penuh kesalahan. Anda tidak memerlukan pengetahuan yang terlalu banyak untuk mengetahui bahwa ketika Muhammad mengatakan bahwa bintang-bintang adalah peluru-peluru kendali yang ditembakkan Allah kepada jin-jin yang berusaha mencuri dengar percakapan Majelis Agung, sebenarnya ia sedang bicara omong kosong. Quran penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal yang dapat dengan segera dilihat seorang murid sekolah dasar. Alasan mengapa banyak orang Muslim tidak melihatnya adalah karena mereka tidak membacanya. Orang-orang yang membacanya dan tetap menjadi orang Muslim tidak ingin melihatnya.

Akhirnya anda meminta saya mendoakan Bangladesh dan mengeluhkan “politik-politik kotor kaum islamis yang menghancurkan budaya tradisional negara anda”.

Dari lubuk hati yang terdalam saya mendoakan negara anda, dan itulah sebabnya saya mohon agar anda bergabung dengan saya dan para pemikir bebas di negara anda, dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting yang mempengaruhi kesejahteraan negara anda. Tanyakanlah efek Islam pada Bangladesh dan rakyatnya, budaya mereka, peradaban mereka, produktivitas mereka, prioritas mereka, dan sebagainya. Apakah Islam membuat orang lebih bermoral? Apakah Islam itu etis? Apakah Islam mendukung kesatuan dalam keluarga? Apakah Islam membela kesetaraan jender? Apakah Islam memajukan kesatuan bangsa dengan memberikan pada semua warga negara hak dan kesempatan yang sama tanpa memandang keyakinan mereka? Apakah Islam mendukung sains? Apakah Islam menyuburkan budaya dan kemajuan pemikiran manusia? Apakah Islam mendukung filsafat dan seni? Apakah Islam menganjurkan demokrasi, kebebasan berekspresi dan kebebasan berpikir? Apakah Islam telah memberikan pengaruh yang positif pada negara anda? Apakah Islam benar-benar mendatangkan kebaikan pada Bangladesh? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang penting. Mengapa tidak menanyakannya? Renungkanlah pertanyaan-pertanyaan itu, bukalah dialog dan dengarkanlah orang-orang yang tidak sepakat dengan anda. Maka anda akan siap untuk mengisi pikiran anda dengan pengetahuan.

Tidak banyak orang siap secara emosional atau intelektual saat ditanyai pertanyaan-pertanyaan sulit seperti itu. Menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bisa jadi akan menyakitkan hati. Kebenaran akan membebaskan anda, tetapi kebenaran tidaklah mudah untuk ditelan. Jika anda tidak siap menghadapi kebenaran, jangan memasuki perdebatan ini. Jangan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghancurkan keyakinan-keyakinan anda yang bias dan iman anda yang anda kasihi. Benamkan saja kepala anda di dalam pasir dan bersikaplah seperti tidak ada yang salah. Berpikiran bebas bukan untuk semua orang, karena hal itu memerlukan kekuatan karakter. Juga membutuhkan pengabdian kepada kebenaran dan pikiran yang jernih untuk menerimanya, sekalipun bertentangan dengan apa yang kita yakini. Jika anda memandang diri anda tidak siap, jangan biarkan orang memaksa anda untuk memasukinya. Tetapi hendaknya anda tidak menghalangi jalan orang-orang yang siap untuk menghadapinya. Jangan menjadi perintang jalan orang-orang yang gagah berani di tanah air anda yang hebat, yang telah bangkit dengan keperkasaan untuk membantai Islam si binatang buas yang mengisap darah bangsamu. Jangan menyepelekan mereka; jangan merendahkan mereka; jangan menodai karakter mereka jika anda tidak dapat meresponi argumen-argumen logis mereka.

Tentukan posisi anda dengan jelas. Apakah anda percaya kepada Islam atau tidak. Apakah anda hamil atau tidak. Anda tidak dapat duduk di pagar dan berkata saya bukan orang Muslim yang bertakwa. Apa yang anda maksudkan dengan pernyataan itu? Tidakkah anda percaya bahwa Islam adalah agama Allah? Jika ya, mengapa anda tidak menjalankannya? Mengapa anda tidak memakai kerudung? Mengapa anda tidak mengijinkan suami anda menikah lagi? Mengapa anda tidak menaatinya, sebaliknya anda malah memilih kesetaraan yang dianjurkan orang kafir? Mengapa anda menuntutnya ke pangadilan jika ia memukuli anda, sedangkan faktanya Allah memberinya hak untuk itu? Mengapa anda menuntut gaji yang sama sedangkan anda tahu kecerdasan anda kurang? (Inilah yang dikatakan Muhammad). Jika Islam itu baik mengapa anda tidak mengikutinya? Tetapi jika Islam itu tidak baik, mengapa anda menganjurkannya pada orang lain? Menurut anda mengapa para wanita miskin di desa-desa di Bangladesh harus ditindas oleh hukum Syariah yang tidak manusiawi dan yang tidak ingin anda ikuti? Mengatakan pada kaum wanita yang tidak berpendidikan dan diperlakukan secara salah di negara anda – bahwa Islam itu baik – sedangkan anda sendiri tidak menyukainya, adalah sebuah kemunafikan. Ini sangat tidak etis.

Sekali lagi, saya mohon pada anda dengan kerendahan hati, bergabunglah dengan kami dalam Perang Suci ini. Tugas ini sangat sakral, upahnya sangat besar, ladangnya sangat luas, dan pekerjanya sangat sedikit dan kami menderita kerugian jika anda tidak bergabung dengan kami. Mari bergabung dengan pasukan Terang. Bergabunglah dengan para pemikir bebas di negara anda. Perangilah kegelapan intoleransi dan kebencian religius. Bantulah orang banyak di Bangladesh untuk menyadari bahwa para leluhur mereka telah melakukan kesalahan, atau mungkin tepatnya: dipaksa melakukan kesalahan ini. Jadilah seorang pahlawan. Jadilah bagian dari solusi. Hendaknya generasi mendatang mengenang anda dengan kebanggaan. Namun jika anda tidak bisa, jika anda tidak mendapati adanya stamina dan kekuatan karakter dalam diri anda, hendaknya anda tidak menghalangi jalan para pahlawan. Jika anda tidak ingin menjadi bagian dari solusi, jangan menjadi bagian dari masalah.

Meninggalkan agama yang membesarkan anda tidaklah mudah.  Agama bersifat adiktif. Saya tahu itu, karena saya sudah pernah mengalaminya. Anda akan mengalami tahap penyangkalan, kebingungan, malu, syok, merasa bersalah, frustrasi, dan marah, kadangkala semua itu anda rasakan pada saat bersamaan. Tetapi tahap yang terakhir adalah pencerahan dan kemerdekaan. Hasilnya dahsyat, tetapi prosesnya menyakitkan. Percayalah pada saya; jika anda telah keluar dari sana, anda tahu semua itu layak dijalani.

Hormat saya,

Saudaramu Ali