Mengapa Hanya Menyerang Islam?

Diposkan oleh Ali Sina pada tanggal 23 Mei 2011 

 

 

Ali,

Saya pikir anda memiliki pandangan yang terpolarisasi. Saya yakin bahwa yang kamu ketahui adalah, tak ada Islam yang “benar”. Islam yang diyakini oleh tetangga saya adalah Islam yang berbeda dengan Islam yang diyakini oleh orang-orang Muslim yang kita kenal di jalanan, dan juga berbeda dengan model Islam yang ada dalam pemikiranmu. Bisa saja model yang kamu pahami adalah model yang lebih dekat dengan yang diimpikan oleh Muhammad, tetapi bukankah agama-agama berevolusi, dan karena itu banyak orang-orang Muslim meyakini Islam yang sepenuhnya berbeda dengan yang anda gambarkan.

Ya, saya memang mempunyai sebuah pandangan yang telah terpolarisasi. Semua yang lain hanyalah kebodohan. Bagaimana seseorang bisa membandingkan Budha atau agama lainnya dengan sebuah kredo demonik seperti Islam? Keyakinan-keyakinan memang berbeda-beda dan karena itu kita tidak boleh menjatuhkan keputusan yang sama terhadap mereka. Komunisme, Naziisme, dan demokrasi adalah sistem politik yang berbeda. Apakah semuanya sama? Bolehkah kita menilai ketiganya sebagai sistem politik yang sama serta menjatuhkan keputusan yang sama terhadap ketiganya? Semua agama tidak serupa. Anda boleh berargumen bahwa semua agama itu salah/palsu. Bahkan kendati hal itu tidak benar. Ada elemen-elemen dalam semua iman yang merupakan kebenaran-kebenaran absolut. Aturan Emas yang menjadi inti dari semua agama (kecuali Islam), adalah sebuah kebenaran absolut. Agama-agama punya hal-hal yang baik, hal-hal yang buruk, dan hal-hal yang sangat jelek. Menurut pendapatku semuanya itu tidak ada gunanya. Manusia bisa memilih yang baik dengan kecerdasannya sendiri. Kita tidak membutuhkan agama apapun untuk mengajari kita bahwa melakukan perkosaan, perampokan dan pembunuhan adalah jahat. Bahkan jika sebuah agama seperti Islam mengatakan bahwa ia adalah baik, dan mendorong para pengikutnya untuk melakukan kejahatan-kejahatan itu kepada mereka yang tidak mau tunduk, kita tetap mengetahui bahwa mereka itu jahat.

Namun demikian, sejumlah orang ingin mengimani sesuatu. Selama iman mereka itu tidak mengancam saya, saya tidak ada masalah dengan itu. Pada hakekatnya kita manusia berbeda-beda, dan kebutuhan-kebutuhan kita pun berbeda. Saya sepenuhnya merasa nyaman tidak mempercayai apapun dan tidak berpaling kepada sebuah Tuhan yang hanya merupakan sebuah khayalan, ketika saya mengalami masalah. Kenyataannya, saya merasa jauh lebih baik saat mengetahui bahwa resolusi atas masalah saya ada di dalam tangan saya sendiri, dan bukan di tangan sebuah fantasi. Bagi sejumlah orang ini adalah hal yang menakutkan.

Hanya ada satu Islam dan itu adalah Islamnya Muhammad. Ini dijelaskan secara detil dalam Quran dan biografinya. Orang-orang Muslim memiliki penerimaan yang berbeda terhadap iman mereka. Sebagian Muslim mempraktekkannya lebih banyak dibandingkan yang lain. Tetapi sesungguhnya hanya ada satu jenis Islam.

Sebuah obyek atau subyek dapat dipahami secara berbeda oleh orang-orang yang berbeda. Ini bergantung pada perspektif para pengamat dan cara pandang mereka. Fakta bahwa beberapa orang menggambarkan sesuatu secara berbeda, tidak berarti bahwa mereka berbicara mengenai hal-hal yang berbeda. Argumen bahwa Islam tidak hanya satu karena orang-orang Muslim menafsirkannya secara berbeda, adalah sebuah kekeliruan. Ini tidak rasional.

Saya sedang menyerang Islamnya Muhammad, yang merupakan Islam sejati. Saya tidak mengenal tetangga-tetanggamu, dan saya tidak tertarik dengan bagaimana mereka menafsirkan agama mereka. Mereka dapat mempertahankan iman mereka. Saya tidak menyerang iman mereka. Yang sedang saya serang adalah sebuah agama yang jahat dan penuh dengan kekerasan. Jika Islam mereka tidak seperti itu, mengapa mereka tidak bergabung dengan saya untuk menghancurkan agama yang jahat ini?

Itu adalah sebuah pernyataan yang tidak cerdas. Namun, saya mendengarnya setiap saat. Karena itu saya akan memberikan padamu sebuah contoh yang bahkan seorang anak kecil pun bisa memahaminya. Misalkan saja ada seekor anjing milik tetangga anda yang menderita rabies dan berlarian kesana kemari menggigiti siapa saja yang melintas. Saya ambil senjata dan mengejar anjing itu. Seseorang menghentikan saya dan mengatakan bahwa anjingnya itu adalah seekor anjing yang baik. Anjing yang ganas bukanlah anjingku. Saya katakan, baiklah, tak ada alasan untuk khawatir, mari kita pergi untuk menyingkirkan binatang yang ganas itu. Kemudian orang ini mulai menyerang saya dan mengatakan bahwa saya tidak boleh melukai anjingnya. Bukankah hal ini membuktikan bahwa “anjingnya yang baik” dengan anjingnya yang ganas itu adalah satu dan sama saja?

Orang-orang Muslim terus-menerus mengatakan pada kita bahwa Islam yang mereka praktekkan bukanlah Islam yang mengajarkan kekerasan. Bagus! Saya tidak menentang agama yang mempromosikan perdamaian. Tetapi ketika mereka menyerang saya, dan mencoba menghentikan saya saat saya mengkritik Islam, jelas bahwa sebenarnya mereka berbohong. Agama mereka itu penuh dengan kekerasan, dan mereka pun mengetahuinya.

Agama-agama lainnya mungkin telah berevolusi (berkembang), tetapi Islam tidak bisa sebab dilarang untuk merubah apapun. Inovasi apapun (bid’a) dianggap sebagai kufr. Untuk “mengembangkan” Islam, maka anda harus membuang 70 persen daripadanya. Bagaimana anda bisa melakukannya jika dengan jelas dikatakan bahwa anda tidak bisa mencomot dan memilih?

 

Ketika saya melihat teksmu tentang Islam, teks-teks itu mendidih dengan kebencian, tetapi ketika saya melihat anda berbicara mengenai Yesus, ia penuh dengan damai dan kasih. Jelas bahwa anda mengabaikan penyiksaan, perang salib, dan apa yang sedang terjadi di Afrika hari ini ketika banyak orang Afrika menerima dan mempercayai Yesus secara supranatural, itu dijadikan alasan bagi anak-anak mereka yang menolak Yesus, untuk dibakar dengan cairan asam atau dibiarkan mati kelaparan. Di samping itu, mereka juga dituduh sebagai tukang sihir.

Jika kisah mengenai Yesus itu benar, jelas bahwa Ia bukanlah seorang yang keji. Ajaran-ajarannya baik. Mengapa aku harus menajiskan seorang yang baik? Saya tidak percaya dengan keilahian Yesus. Saya melihat Dia hanya sebagai seorang manusia. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa saya akan berlaku tidak fair dan menjelek-jelekkan seorang yang baik.

Inquisisi atau hal buruk apapun yang pernah dilakukan oleh orang-orang Kristen, tak ada urusannya dengan Yesus. Ia tak pernah menghasut orang untuk melakukan hal-hal itu. Ia berkata bahwa orang yang hidup dengan pedang, akan binasa karena pedang. Ia mengajar untuk mengampuni dosa-dosa orang lain, supaya dosa-dosamu dapat diampuni. Ia juga mengatakan supaya orang terlebih dahulu melihat balok yang ada di matanya, sebelum melihat selumbar di mata orang lain.

Ia katakan, silahkan terlebih dulu melemparkan batu (kepada orang berdosa), jika engkau tidak berdosa. Ia mengatakan bahwa engkau sudah diajar untuk tidak melakukan perzinahan, Aku berkata kepadamu supaya tidak memikirkannya, sebab ia yang memikirkannya telah berdosa di dalam hatinya. Saya bisa membuat sebuah argumen psikologi modern berdasarkan quantum fisik untuk memperlihatkan pada anda relevansi dari ajaranNya. Tetapi saya tidak mau menyimpang dari pokok pembahasan. Anda tidak akan bisa menemukan pembenaran atas kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen, mereka lakukan dalam nama Tuhan melalui ajaran-ajaran Yesus.

Inquisisi dan Perang Salib terjadi karena pengaruh Islam terhadap Gereja Katolik. [Para penyerang Muslimlah yang terlebih dahulu menyerang daerah-daerah Kristen, merampoki dan membunuh penduduknya, menghancurkan gereja-gereja mereka dan merubahnya menjadi mesjid, serta menguasai wilayah itu – termasuk Yerusalem – untuk dijadikan sebagai negara-negara Islam.]

Karena keberhasilannya, maka Gereja mulai mengkopi Jihad dan Mihnah. Budaya saling mempengaruhi satu sama lain. Bahkan hari ini, budaya sekuler dan barat yang liberal, dipengaruhi oleh budaya Islam yang represif. Kita menghukum orang yang mengatakan kebenaran tentang Islam. Kegilaan ini bukanlah disebabkan oleh sekularisme. Ini adalah hukum penghujatan yang meresap ke dalam hukum-hukum kita. Jika Geert Wilders diputuskan bersalah atau jika seseorang di Inggris dikirim ke penjara karena ia membakar Quran, maka kita bisa menyalahkan sekularisme atas tindakan itu. Sekularisme sedang diislamkan. Hal yang sama terjadi pada Gereja. Ia pun telah diislamkan.

Apa yang terjadi di Afrika juga bukan kesalahan Yesus. Ini adalah praktek-praktek animisme, bukan Kristen. Itu dipraktekkan oleh orang-orang Kristen dalam nama Yesus, tetapi itu bukanlah ajaran-ajaran Yesus. Itu adalah sisa-sisa peninggalan animisme yang tetap hidup dalam jiwa orang-orang Afrika.

 

Saya memahami bahwa anda tidak menyukai Islam, saya pun tidak menyukainya. Saya tidak berpegang pada apa yang tampak hanya sebagai sebuah kebencian emosional, tetapi semuanya itu bergantung pada anda. Ketika anda sedemikian membenci Muhammad dan Islam, kemudian berbicara (menurut pendapatku apa yang kau katakan itu salah) mengenai Yesus sebagai sosok yang begitu manis dan baik, saya menduga bahwa anda adalah seorang Kristen.

Secara intelektual, bukan sebuah sikap yang jujur jika kita menyamakan Yesus dengan Muhammad. Pernahkah Yesus menyerang orang lain? Pernahkah Dia melakukan pembunuhan massal, pemerkosaan, atau merampok seseorang? Pernahkah Dia menghasut pengikutNya untuk membunuh atau memerintakan mereka untuk melakukan pembunuhan? Pernahkah Dia menidurin wanita-wanita setelah membantai suku mereka dan menganiaya hingga tewas suami-suami mereka?

Anda telah menaruh keyakinan anda pada Tuhan. Kuucapkan selamat untuk itu. Tetapi apakah anda juga sudah bersikap adil? Dengan cara bagaimana Yesus bisa disamakan dengan Muhammad? Marilah kita berasumsi, demi sebuah argumen, bahwa kisah-kisah mengenai Yesus itu memang benar demikian. Saya tidak sedang berbicara mengenai mujizat-mujizatNya yang tidak bisa dibuktikan. Saya sedang berbicara mengenai ajaran-ajaranNya dan contoh-contoh yang ia berikan. Cobalah anda menganalisanya sebagai seorang manusia. Adakah dua orang yang secara diametris begitu berlawanan seperti Yesus dan Muhammad?

Saya tidak dapat menjadi seorang Kristen karena saya tidak dapat mempercayai sosok Tuhan yang mengintervensi urusan-urusan manusia. Kenyataannya, jika Tuhan yang seperti itu eksis, dengan menganggap bahwa pondasi dari dunia ini didasarkan pada ketidakadilan, maka pastilah Dia itu Tuhan yang sinis dan kejam, dan karena itu tidak pantas untuk disembah. Saya adalah seorang vegan (tidak makan daging), karena saya tidak sanggup memikirkan mengambil hidup seekor binatang yang menyenangkan, hanya agar saya bisa memakan dagingnya. Dan ya, saya mencintai binatang lebih daripada mencintai beberapa orang manusia. Tak ada kejahatan dalam diri binatang. Tetapi Tuhan yang satu ini telah mendisain dunia ini dengan cara sedemikian rupa, bahwa keberlangsungan banyak spesies bergantung pada menghilangkan nyawa ciptaan lainnya. Sinisme dan kekejamannya sedemikian hinanya, dengan mengaruniakan ciptaan-ciptaan ini menjadi makanan mahluk yang lain, dengan mengabaikan bahwa ketika seekor sapi dimangsa oleh seekor binatang predator, induknya akan merasakan penderitaan dan dukacita. Betapa menjijikkannya membayangkan, hewan yang dimangsa demi makanan pemangsanya, harus mengalami kesakitan yang sedemikian besar?

Saya tidak sedang berbicara mengenai Tuhan. Saya sedang berbicara mengenai Yesus sebagai seorang manusia. Tunjukkan pada saya hal yang jahat dalam ajaran-ajaran Yesus, atau dalam hidupnya. Jika anda dapat membuktikannya, maka saya akan mencelanya. Kita tidak boleh bersikap tidak jujur dan adil dalam penilaian kita, hanya gara-gara kita menolak Tuhan.

Muhammad adalah figur yang sepenuhnya berbeda. Tak ada kejahatan yang belum pernah ia lakukan. Semua ajaran-ajarannya adalah jahat. Tak ada yang baik yang ia katakan atau pun lakukan.

Ketika orang-orang Kristen melakukan kejahatan, mereka melakukannya karena mereka tengah menyimpang dari apa yang diajarkan oleh Yesus. Ketika orang-orang Muslim melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, itu terjadi karena mereka tidak mentaati Nabi mereka. Ketika mereka mengikutinya, maka mereka menjadi tempat kediaman semua yang jahat. Orang-orang Kristen yang baik akan menjadi Mother Theresa. Seorang Hindu yang baik akan menjadi Gandhi. Seorang Budha yang baik akan menjadi Dalai Lama. Seorang Muslim yang baik akan menjadi Khomeini [atau Osama Bin Laden, red.]

Alasan mengapa saya tidak mempromosikan atheisme, karena saya tidak melihat atheisme menjadikan orang jadi lebih baik. Saya melihat atheisme hanyalah sebuah kefanatikan sama halnya dengan orang-orang yang beragama. Seringkali para atheis ini tidak menilai secara adil. Bagi mereka, atheisme adalah agama yang lain. Mereka membenci dan meremehkan iman-iman lainnya. Banyak orang atheis memfitnah Palin dan mendukung seorang kriminal seperti Obama, sebab Palin percaya pada Tuhan sementara Obama hanyalah seorang penipu. Hal ini mengingatkanku pada kemunafikan orang-orang Farisi yang lebih menyukai Barabas dibandingkan Yesus. Sungguh mengagumkan bagaimana fanatisme bisa sedemikian membutakan orang.

Bagi saya, atheisme adalah sebuah filosofi. Saya adalah seorang atheis sebab saya tidak bisa meyakinkan diri saya sendiri bahwa ada Tuhan atau mahluk yang cerdas yang menjalankan dunia ini. Saya tahu bahwa saya bisa melakukan suatu pekerjaan yang lebih baik. Ya, ada kecerdasan dalam jagat raya ini yang direfleksikan dalam seluruh keberadaan termasuk atom-atom. Namun menurutku tak ada mahluk cerdas yang mengawasi kita.

Perbedaan utama antara saya dengan para atheis lainnya adalah bahwa bagi saya keyakinan itu nomor dua. Yang penting itu adalah apa yang kita buat, bukan apa yang kita yakini. Keyakinan-keyakinan berubah. Mereka bisa berubah sama mudahnya seperti mengganti sebuah baju kaus. Saya melakukannya setiap saat. Setiap hari saya mempelajari hal baru dan menyesuaikan keyakinan saya secara menyeluruh. Selama kurun waktu bertahun-tahun, keyakinan-keyakinan saya berubah secara dramatis. Saya menyebutnya evolusi keyakinan.

Yang saya lihat dalam diri orang adalah kemanusiaan mereka. Saya melihat  pada pemahaman mereka mengenai keadilan, kejujuran, belas kasihan, kebaikan, dan empati. Intelektualisme menantang pemikiran saya, tetapi apa yang membuat saya menangis adalah tindakan-tindakan keramahan yang simpel. Saya ingin mempromosikan kebaikan. Bagiku keyakinan itu nggak penting!