Mariyah, Budak Seks Rasul Suci

Diposkan Oleh Ali Sina, pada tanggal 23 Desember 2010

Yang berikut ini adalah skandal cinta Muhammad dengan Mariyah orang Koptik, yang merupakan salah seorang budak dari isteri-isteri Nabi. Muhammad tidur dengannya tanpa ada upacara apapun, sehingga menyebabkan kegaduhan di antara isteri-isterinya, dan harus diatasi lewat “Intervensi Ilahi.” Kisah ini dicatat dalam sebuah Hadis otentik dan dilaporkan oleh Umar.

Hadis ini menjelaskan alasan turunnya wahyu dalam Quran 66:4.

Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

Umar menjelaskan bahwa kedua wanita ini adalah Hafsa dan Aisyah, yang menjadi tidak hormat kepada Nabi, sehingga Nabi merasa sedih dan berpikir untuk menceraikan semua isteri-isterinya. Inilah kisah selengkapnya.

Bukhari Volume 3, Book 43, Number 648:

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas:

Aku sangat ingin bertanya kepada Umar tentang kedua wanita dari antara isteri-isteri Nabi, dalam kaitan dengan siapakah Allah berkata (dalam Quran): Jika kalian berdua (isteri-isteri Rasul yaitu Aisyah dan Hafsa) bertobat kepada Allah, sebab hati kamu berdua telah condong (menentang apa yang disukai oleh Rasul) (Quran 66:4), hingga melaksanakan Haji bersama-sama dengan ‘Umar (dan dalam perjalanan kita pulang berhaji), ia pergi ke suatu tempat (untuk melaksanakan panggilan alam/buang hajat), dan aku juga pergi bersamanya dengan membawa ember berisi air. Ketika ia telah selesai melaksanakan panggilan alam dan telah kembali. Aku menuangkan air ke tangannya dari ember itu dan melaksanakan wudhu. Aku berkata,”Oh Kepala orang-orang beriman! “Siapakah kedua wanita dari antara isteri-isteri Nabi yang kepadanya Allah telah berfirman,‘Jika kamu berdua bertobat (66:4)? Ia menjawab,”Aku terkejut dengan pertanyaanmu, Oh Ibn ‘Abbas. Mereka adalah Aisyah dan Hafsa.”

Kemudian ‘Umar mengkaitkan kisah itu dan berkata:

“Aku dan tetanggaku seorang Ansari berasal dari Bani Umaiya bin Zaid. Kami tinggal di ‘Awali Al-Medina. Kami biasanya mengunjungi Nabi secara bergantian. Ia pergi berkunjung pada satu hari, dan aku di hari yang lain. Ketika aku pergi, aku akan membawa kabar padanya mengenai apa yang telah terjadi pada hari itu, mengenai apa yang diperintahkan, serta aturan-aturan yang diberlakukan. Dan ketika ia pergi, ia juga biasa melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan.

Kami orang-orang Quraish mempunyai otoritas atas para wanita, namun saat kami tinggal bersama dengan Ansar, kami perhatikan wanita-wanita Ansari mempunyai tangan yang lebih tinggi di atas pria-pria mereka. Karena itu para wanita kami mulai meniru kebiasaan wanita-wanita Ansari. Suatu ketika aku meneriaki isteriku, dan kemudian ia membalas meneriakiku dan aku tidak suka kalau ia membalas teriakanku. Isteriku berkata,’Mengapa engkau merasa sakit hati jika aku menjawabmu dengan pedas? Demi Allah, isteri-isteri Nabi pun menjawabnya dengan pedas, dan beberapa dari mereka bahkan tidak mau berbicara dengannya dari pagi hingga malam hari.’

Apa yang ia katakan menakutkanku dan aku berkata padanya,’Siapapun dari antara mereka yang melakukan hal seperti itu, mereka akan mengalami kerugian yang sangat besar.’ Kemudian aku mengenakan pakaian dan pergi menemui Hafsa dan bertanya padanya,’Apakah ada dari antara kalian yang membuat Rasul Allah menjadi marah dari pagi hingga malam hari?’ Ia membenarkan hal itu. Aku berkata,’Ia akan menjadi orang-orang yang rugi (dan tak akan pernah meraih keberhasilan)! Tidakkah ia takut bahwa Allah akan menjadi marah pada mereka yang marah pada Rasul Allah, dan oleh karena itu akan dimusnahkan oleh Allah? Janganlah meminta terlalu banyak pada Rasul Allah, dan jangan menjawabnya dengan pedas untuk hal apapun, juga jangan mengabaikannya. Mintalah dariku apapun yang kamu sukai, dan jangan tergoda untuk meniru perilaku tetanggamu (misalnya Aisyah) terhadap Nabi. Sebab dia (yaitu Aisyah) lebih cantik dari kalian semua, dan lebih dikasihi oleh Rasul Allah.

Pada hari-hari itu, ada rumor bahwa Ghassam (satu suku yang tinggal di Sham), tengah menyiapkan kuda-kuda mereka untuk menginvasi kami. Rekanku berangkat (untuk bertemu Nabi pada hari gilirannya) dan pulang pada malam hari, mengetuk pintu rumahku dengan kasar, bertanya apakah aku sedang tidur. Aku menjadi takut (dengan ketukan keras di pintu) dan segera menemuinya. Ia mengatakan bahwa sebuah kejadian besar tengah terjadi. Aku bertanya padanya: Apakah itu? Apakah Ghassam sudah datang? Ia menjawab bahwa ini adalah hal yang lebih serius dan buruk dari itu, dan menambahkan bahwa Rasul Allah telah menceraikan semua isteri-isterinya.

Aku berkata, Hafsa adalah seorang pembuat masalah! Aku pikir masalah seperti ini akan terjadi.’ Maka aku mengenakan pakaianku dan menawarkan untuk memimpin sembahyang subuh bersama Nabi. Kemudian Nabi memasuki sebuah ruang di sebelah atas dan tinggal di sana sendirian. Aku pergi kepada Hafsa dan menjumpainya tengah menangis. Aku bertanya padanya,’Mengapa engkau menangis? Bukankah aku sudah memperingatkanmu? Benarkah Rasul Allah sudah menceraikan kalian semua?’ Ia menjawab,’Aku tidak tahu. Ia ada di sana, di ruangan atas.’ Kemudian aku pergi keluar menuju mimbar dan menemui satu kelompok orang di sekitar mimbar itu dan beberapa dari mereka tengah menangis. 

Kemudian aku duduk dengan mereka untuk beberapa waktu lamanya, tetapi merasa tidak tahan dengan situasi yang terjadi pada waktu itu. Karena itu aku naik ke ruangan atas dimana Nabi tengah berada, dan memohon pada seorang budaknya yang berkulit hitam:”Maukah engkau memberikan ijin (Rasul Allah) kepada Umar (untuk masuk)? Budak itu pun masuk, berbicara dengan Nabi mengenai hal itu dan keluar dengan berkata,’Aku telah memberitahukan bahwa kalian ingin menemuinya, tetapi dia tidak menjawab.’ Karena itu aku pergi dan duduk bersama dengan orang-orang yang tengah duduk di sekitar mimbar, tetapi aku tidak tahan menanggung situasinya, karena itu aku pergi kepada budak itu kembali dan berkata:”Bisakah engkau memberikan ijin bagi Umar?

Ia masuk ke dalam dan membawa jawaban yang sama seperti sebelumnya. Ketika aku akan pulang, budak itu memanggilku sambil berkata,”Rasul Allah telah memberikan ijin kepadamu.” Maka aku pun masuk menemui Nabi dan melihat dia sedang berbaring di atas tikar tanpa alas, dan ada tanda bekas tubuh Nabi di atas tikar itu, dan ia berbaring pada sebuah bantal kulit yang diisi dengan daun palem. Aku mengucapkan salam padanya dan sementara masih berdiri, aku berkata:”Apakah engkau telah menceraikan isteri-isterimu?’ Ia menatapku dengan tajam dan menjawab dengan nada negatif. Sementara masih berdiri, sambil mengobrol aku berkata: ”Bisakah engkau mengindahkan apa yang aku katakan, ‘Oh Rasul Allah! Kami, orang-orang Quraish, biasanya tangan kami berada lebih tinggi dari para wanita (isteri-isteri) kami, dan ketika kami menjumpai orang-orang yang tangan para wanita mereka lebih tinggi daripada mereka…”

‘Umar memberitahukan seluruh kisah (mengenai isteri-isterinya). “Tentang hal itu Nabi tersenyum.” ‘Umar lebih jauh lagi mengatakan,”Kemudian aku berkata,”Aku pergi menemui Hafsa dan berkata kepadanya: Janganlah tergoda untuk meniru teman-temanmu (‘Aisyah), sebab ia itu lebih cantik daripada engkau dan lebih disayangi oleh Nabi.’

Nabi kembali tersenyum. Ketika aku melihatnya tersenyum, aku duduk dan melemparkan pandangan sekilas ke sekeliling ruangan itu, dan demi Allah, aku tidak dapat melihat satupun yang penting kecuali tiga hal yang tersembunyi. Aku berkata (kepada Rasul Allah) “Berdoalah agar Allah membuat para pengikutmu menjadi makmur, sebab orang Persia dan orang Bizantium telah membuat penduduknya menjadi makmur, serta memberikan barang-barang yang mewah, meskipun mereka tidak menyembah Allah?’

Nabi kemudian menyandarkan tubuhnya (dan ketika mendengar apa yang kukatakan, ia duduk dengan tegak) dan berkata,’O Ibn Al-Khattab! Apakah engkau mempunyai keraguan bahwa Hidup sesudah mati adalah lebih baik daripada dunia ini)? Orang-orang itu hanya menerima upah atas perbuatan baik mereka di dunia ini saja.’ Aku bertanya kepada Nabi. ‘Mintalah pengampunan Allah untukku. Nabi tidak mengunjungi isteri-isterinya karena rahasia yang dibukakan Hafsa kepada Aisyah, dan ia berkata bahwa ia tidak akan menemui isteri-isterinya selama satu bulan sebab ia marah pada mereka – ketika Allah menegur dia (atas sumpahnya bahwa ia tidak akan kembali mendekati Mariyah).

Ketika dua puluh sembilan hari telah berlalu, pertama-tama Nabi pergi menemui Aisyah. Ia berkata padanya (pada Rasul Allah), ’Engkau sudah bersumpah bahwa engkau tidak akan datang menemui kami selama satu bulan, dan hari ini baru hari yang keduapuluh sembilan, karena setiap hari aku menghitungnya.’ Nabi berkata,’Bulan ini juga terdiri dari dua puluh sembilan hari.’ Aisyah berkata,’Ketika Pilihan Wahyu Ilahi disingkapkan, Nabi memulainya denganku, dengan mengatakan padaku,’Aku memberitahukanmu sesuatu, tetapi engkau tidak perlu terburu-buru memberikan jawaban hingga engkau berkonsultasi dengan orang tuamu.” Aisyah tahu bahwa orang tuanya tidak akan menasehatinya untuk berpisah dengan Nabi. Nabi mengatakan bahwa Allah telah berfirman:

‘Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.’ (33:28,29). Aisyah bertanya padanya,’Apakah aku perlu mengkonsultasikan hal ini pada orang tuaku? Sesungguhnya aku lebih menyukai Allah, RasulNya, dan Rumah di negeri akhirat.’ Setelah itu, Nabi memberikan pilihan pada isteri-isterinya yang lain, dan mereka pun memberikan jawaban yang sama ‘sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah.”

Hadis ini dilaporkan juga dalam Muslim 9.3511, dan Bukhari 3.43.648,7.62.119

Ini sesuatu yang signifikan sebab berisi dua poin sejarah penting. Pertama, ia menyingkapkan, berdasarkan pengakuan Umar sendiri bahwa, “tangan para wanita Ansari ada di atas tangan para pria mereka”. Bahkan jika kita menganggap hal itu sebagai sesuatu yang dibesar-besarkan, adalah jelas bahwa wanita di Medina mempunyai lebih banyak hak dan otoritas dibandingkan dengan sesama wanita dari suku Quraish. Mekah, rumah dari suku Quraish, darimana Umar dan Muhammad berasal, adalah sebuah pusat keagamaan.

Orang yang tinggal di kota-kota keagamaan biasanya lebih fanatik dibandingkan dengan mereka yang tinggal di kota-kota lainnya. Agama selalu memainkan peran untuk menundukkan kaum wanita dan mengambil hak-hak kemanusiaan mereka. Sebab itu, merupakan hal yang natural bahwa para wanita Mekah bersikap lebih tunduk dibandingkan dengan wanita yang hidup di tempat lain di Arabia, dan khususnya di Medina, yang pada waktu itu merupakan sebuah kota yang lebih kosmopolitan dan mempunyai penduduk dari bangsa-bangsa yang lebih maju peradabannya seperti Yahudi dan Kristen. Isteri-isteri Umar dan Muhammad lebih menyukai atmosfer emansipasi ini dan ingin menerapkan kebebasan relatif mereka. Tetapi hal ini tidak sesuai dengan keinginan kedua pria tak bermoral dari Mekah, yang bernama Umar dan Muhammad. Karena itu, hadis ini memperlihatkan bagaimana mereka dikejutkan oleh kebebasan yang baru ditemukan oleh isteri-isteri mereka. Hadis ini adalah hadis yang penting, sebab ini membuktikan bahwa para wanita sebelum Islam, memiliki lebih banyak kebebasan. Tetapi kemudian, kebebasan itu diambil dari mereka oleh Muhammad dan para penggantinya yang bejat. Juga menjadi jelas bahwa status yang menyedihkan dari para wanita dalam Islam, sesungguhnya bukanlah karena sebuah keputusan ilahi, namun pada tingkatan yang lebih luas, merupakan refleksi bagaimana para wanita diperlakukan di Mekah 1400 tahun yang lalu.

Fakta bahwa ada begitu banyak penekanan dalam Quran dan hadis mengenai betapa pentingnya para wanita untuk taat kepada suami-suami mereka, sesungguhnya menjadi sebuah indikasi dari keinginan Muhammad sendiri untuk mengontrol isteri-isterinya yang masih muda dan suka memberontak.

Hadis ini juga menyingkapkan skandal seksual nabi yang lain.

Suatu hari Muhammad pergi ke rumah Hafsa isterinya, anak perempuan Umar, dan menjumpai pembantunya yang menarik yaitu Mariyah. Muhammad memikirkan bagaimana ia bisa membuat Hafsa pergi dari rumahnya, sehingga ia bisa berduaan saja dengan Mariyah. Ia berbohong dengan mengatakan pada Hafsa bahwa ayahnya, Umar, memanggilnya. Ketika Hafsa pergi, Muhammad membawa Mariyah ke tempat tidur dan berhubungan seks dengannya. Bagi Mariyah, menolak keinginan Muhammad adalah hal yang tak terpikirkan. Ia adalah seorang budak perempuan yang jauh dari keluarganya, sementara Muhammad sendiri adalah hukum di kota itu. Jadi secara teknis, Muhammad sebenarnya melakukan perkosaan kepada Mariyah.

Sementara itu, Hafsa yang menyadari bahwa ayahnya tidak memanggilnya, dan juga yang kepulangannya ke rumah tidak diduga akan secepat itu, memergoki bagaimana suaminya yang sangat termasyur itu tengah berduaan di tempat tidur dengan pembantunya.

Hafsa menjadi sangat histerikal dan lupa dengan kedudukan nabi yang ia teriaki, sehingga hal itu menjadi sebuah skandal. Nabi meminta Hafsa untuk tenang dan berjanji untuk tidak tidur lagi dengan Mariyah. Ia juga memohon dengan sangat agar Hafsa tidak menceritakan rahasia itu kepada siapa pun.

Meskipun demikian, Hafsa yang tidak sanggup mengontrol dirinya, memberitahukan kejadian itu kepada temannya Aisyah dan keduapuluh isteri-isteri nabi lainnya, sehingga menyebabkan “Sang Karunia Allah bagi dunia” mengalami beban mental yang berat. Sang “Karunia Allah” memutuskan untuk menghukum semua isteri-isterinya, dan mengumumkan bahwa ia tidak akan tidur lagi dengan salah seorang pun dari mereka selama satu bulan. Ini adalah dua tingkatan penghukuman yang direkomendasikan dalam Quran. Tingkat pertama adalah menegur mereka, dan tingkat ketiga adalah hukuman badan.  Q. 4: 34.

Ketika seorang pria memutuskan untuk menghukum isterinya dengan berpantang melakukan hubungan seks, ia bisa memuaskan dirinya dengan isteri-isterinya yang lain. Tetapi kemarahan Muhammad menyebabkannya mengucapkan sumpah untuk tidak tidur dengan satu pun dari mereka selama satu bulan. Tentu saja hal ini menjadi terlalu berat bagi yang terkasih Sang Utusan Allah (semoga damai turun atas jiwanya yang tak bernoda). Karena itu Allah, dalam karunianya, datang untuk menolong nabinya dan mewahyukan Sura Tahrim (Larangan). Dalam Sura ini, Allah menegur nabinya karena bersikap terlalu keras terhadap dirinya sendiri, dan untuk menolak melakukan apa yang ia sukai, demi untuk menyenangkan hati isteri-isterinya, padahal hal itu sesungguhnya sudah “dihalalkan” untuk ia lakukan.

1. Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

2. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

3. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

4. Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.

5. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan. (Q. 66:1-5)

Meskipun Muhammad sudah menyampaikan sumpahnya itu kepada Hafsa, yaitu untuk tidak lagi tidur dengan pembantunya, tetapi ia tidak sanggup menahan godaan. Ia sudah mengecap manisnya buah terlarang dan karena itu ia harus menghabiskannya. Ini menjadi hal yang mendesak, karena ia pun juga telah mengucapkan sumpah lainnya, yaitu untuk tidak tidur dengan semua isteri-isterinya yang lain. Bagaimana mungkin “Ciptaan Terbaik” tidak berhubungan seks selama satu bulan penuh?

Ini merupakan situasi yang sulit dan, karena itu, tak seorang pun bisa menolongnya kecuali Allah sendiri. Yang jelas, tak ada yang mustahil, jika Allah ada di dalam saku celanamu sendiri. Serahkan segala sesuatu di tangan sahabatmu yang “maha kuasa”, dan biarkan ia yang mengurusnya.

Apakah Muhammad diinspirasikan oleh Allah, atau oleh nafsunya sendiri?

Inilah yang sebenarnya terjadi. Allah sendiri yang campur tangan dan memberikan lampu hijau pada nabiNya untuk mengikuti hasrat hatinya sendiri. Dalam sura Tahrim, Allah merestui nabi kesayanganNya untuk tetap tinggal bersama Mariyah dan tidak mempedulikan isteri-isterinya. Apa lagi yang lebih dari itu yang bisa diminta oleh seorang nabi? Allah sedemikian peduli dengan hasrat jasmani Muhammad sehingga Ia bahkan mengijinkan SEMUA ORANG untuk membatalkan sumpah-sumpah mereka sebagai “sebuah karunia.” Alhamdulillah! Subhanaallah. Allah itu begitu luar biasa bukan?

Juga patut jika menyebutkan, setelah Muhammad mengetahui kalau Hafsa telah memberitahukan rahasianya kepada Aisyah, maka Muhammad pun kemudian kembali berbohong dengan mengatakan bahwa Allah-lah yang memberitahukan hal itu padanya (ayat 3), padahal yang benar adalah Aisyah sendiri yang memberitahukan hal itu pada Muhammad. Tetapi, tentu saja Muhammad bukanlah pengarang Quran. Melainkan Allah sendiri yang berbohong demi nabiNya.

Dalam sura ini, Muhammad menggambarkan pencipta alam semesta sebagai seorang mucikari, seorang penggosip dan seorang pendusta – semuanya itu ia lakukan untuk menutupi kebejatan dan perzinahannya.

Sebagai reaksi atas ayat-ayat di atas, Aisyah yang tidak hanya masih muda dan cantik, tetapi juga cerdik, melaporkan apa yang telah disampaikan padanya, kepada Muhammad. Ia berkata,”Tuhanmu sedemikian gesitnya menolongmu!”

Kisah di atas pastilah membuat para pengikut Muhammad menjadi malu, sampai membuat mereka menerima tanpa mempertanyakan, semua hal yang ia beritahukan pada mereka. Untuk menyembunyikan dosa percabulannya, mereka mengarang hadis yang lain untuk menjelaskan ayat-ayat Quran itu, yang sebenarnya sudah dijelaskan oleh Omar.

Muslim  9: 3496

(kiranya Allah memperlihatkan kemurahan atasnya) Meriwayatkan bahwa Rasul Allah (kiranya damai ada atasnya), biasa menghabiskan waktu dengan Zainab, anak perempuan Jahsh dan minum madu di rumahnya. Ia (Aisyah meneruskan) berkata: Aku dan Hafsa setuju bahwa orang yang Rasul Allah (kiranya damai ada atasnya) akan kunjungi pertama kali harus mengatakan: Aku lihat bahwa engkau memiliki bau-bauan magafir (permen dari mimosa). Ia (Nabi Suci) mengunjungi salah seorang dari mereka dan ia berkata kepadanya seperti ini: Aku telah mengambil madu di rumah Zainab bint Jabsh dan aku tidak akan melakukannya lagi. Mengenai hal inilah (ayat berikut diwahyukan): ‘Mengapa engkau melarang, apa yang diijinkan oleh Allah bagimu…(bergantung engkau). Jika kamu berdua (Aisyah dan Hafsa) berpaling pada kehendak Allah: ”Dan ketika Nabi Suci menceritakan rahasianya kepada salah seorang dari isteri-isterinya (lxvi. 3). Ini berkaitan dengan apa yang ia katakan: Tetapi aku telah mengambil madu.

Eksistensi Hadis di atas dan perbedaannya dengan yang dikisahkan oleh Umar, menyingkapkan fakta lain bahwa ternyata sahabat-sahabat Muhammad rela untuk berbohong, (Sebagaimana halnya orang-orang Muslim hari ini), demi menyelamatkan gambar diri Nabi mereka agar tidak ternoda. Adalah tindakan yang bodoh jika kita menerima kisah mengenai minum madu untuk membenarkan sura Tahrim. Madu itu sendiri tidak memiliki bau yang tidak enak. Lebih daripada itu, sangat sulit memikirkan jika insiden meminum madu itu sampai-sampai menyebabkan Muhammad memutuskan untuk menceraikan semua isteri-isterinya, atau menghukum mereka dengan tidak tidur dengan mereka selama satu bulan. Bisakah sebuah insiden yang tidak signifikan seperti meminum madu, mencetuskan begitu banyak kegaduhan sehingga Allah sendiri harus mengintervensi dengan memberikan peringatan kepada isteri-isteri Muhammad bahwa ia akan menceraikan mereka semua dan bahwa Dia (Allah) akan memberikan pada Muhammad isteri-isteri yang masih perawan dan yang setia? Penjelasan ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal, kecuali bahwa sebenarnya ini merupakan “istilah lain” yang dipakai, untuk menggambarkan apa yang telah Muhammad minum dari antara selangkangan Mariyah.

Sebagian Muslim telah mengklaim bahwa hadis-hadis yang mencatat peristiwa yang dikisahkan oleh Abdullah bin ‘Abbas adalah palsu, dan versi yang benar adalah yang mengisahkan soal madu. Itu pandangan yang tidak masuk akal. Hadis ini dicatat baik oleh Bukhari dan juga oleh Muslim. Lebih jauh lagi, ini adalah satu-satunya penjelasan logis dari sha’ne nozool (konteks) sura Tahrim. Berdasarkan pendapat sarjana Muslim Asif Iftikhar “sebuah hadis bisa dianggap sebagai sebuah sumber pembimbing religius hanya jika dasar dari hadis itu eksis dalam Quran dan Sunnah, atau dalam prinsip-prinsip yang telah dibangun.” Quran mengijinkan orang-orang Muslim untuk berhubungan seks dengan “yang dimiliki oleh tangan kanannya”, misalnya para budak (Q. 4:24). Inilah kebiasaan Muhammad, yang mana ia punya kegemaran untuk melakukan hubungan seks dengan budak-budak wanita yang ia miliki. Teks dari sura juga sangat jelas, bahwa ini mengenai berhubungan seks dan bukan mengenai minum madu, yang merupakan sebuah penjelasan yang ngawur. Asif Iftikhar menulis “Imam Ibni Ali Jauzee dilaporkan telah mengatakan:”Jika anda menemukan sebuah hadis yang bertentangan dengan akal sehat atau berlawanan dengan aturan universal, maka anggaplah itu sebagai hadis yang palsu.”

Kisah mengenai madu adalah hal yang menggelikan dan tidak masuk akal. Mengapa bisa terjadi kegaduhan yang begitu besar hanya gara-gara madu? Dan madu apa yang baunya tidak enak? Sebaliknya madu itu sendiri harum baunya. Hadis ini telah dikarang karena jelas bahwa, bahkan pada masa itu, orang-orang Muslim merasa malu melihat perilaku nabi mereka. Namun demikian, hadis-hadis tentang Muhammad yang berbohong kepada Hafsa, dengan tujuan untuk menyingkirkan Hafsa supaya ia bisa berhubungan seks dengan Mariyah, adalah hal yang sangat masuk akal. Hal ini sesuai dengan apa yang diijinkan dalam Quran, dan hal itu pun menegaskan kebejatan moral dan perilaku Muhammad. Bukan suatu hal yang aneh bahwa Muhammad itu senang melakukan hubungan seks dengan wanita-wanita yang ia anggap menarik.

Kisah ini jika dilaporkan oleh Ibn Sa’d dalam Tabaqat:

Waqidi memberitahu kami bahwa Abu Bakr bercerita bahwa utusan Allah (SAW) telah melakukan hubungan seksual dengan Mariyah di rumah Hafsah. Ketika beliau duduk di belakang pintu yang terkunci). Ia berkata kepada nabi, “Wahai Utusan Allah, apakah yang engkau lakukan disini di dalam rumahku pada waktu giliranku?” Utusan Allah berkata, “Kendalikanlah dirimu dan biarkanlah aku pergi karena aku menjadikannya haram untukku”. Hafsa berkata, “Aku tidak terima, kecuali engkau bersumpah padaku”. Hazrat (Yang Mulia) berkata, “Demi Allah aku tidak akan menghubunginya lagi” (lihat: contact). Qasim ibn Muhammad mengatakan bahwa janji nabi ini, yang telah mengharamkan Mariyah bagi dirinya, tidak berlaku – itu tidak menjadi sebuah pelanggaran (hormat). [Tabaqat ayat  8 h.223 Publisher Entesharat-e Farhang va Andisheh Tehran1382 solar h.(2003). Penerjemah Dr. Mohammad Mahdavi Damghani]

Qasim ibn Muhammad sudah tentu berusaha mendapatkan pembenaran untuk pembatalan yang dilakukan Muhammad terhadap janji yang telah dibuatnya sendiri. Jika perkataannya tidak mempunyai keabsahan, lalu mengapa ia mengucapkannya, dan jika perkataannya itu benar adanya mengapa ia sendiri mengingkarinya?   

Salinan Quran saya memuat tafsir berikut ini berdampingan dengan Sura Tahrim. 

Juga dilaporkan bahwa nabi telah membagi jadwal hariannya dengan para istrinya. Dan ketika tiba giliran Hafsa, ia menyuruh Hafsa pergi bergegas ke rumah ayahnya Umar Khattab. Ketika Hafsa melakukan perintahnya dan pergi, nabi memanggil budak perempuannya, yaitu Mariyah orang Koptik, yang adalah pemberian Raja Najashi. Nabi bersetubuh dengannya, dan kemudian hari ia melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Ibrahim. Ketika Hafsa kembali, ia mendapati pintu rumahnya terkunci. Lalu ia duduk di balik pintu yang terkunci itu hingga nabi menyelesaikan “urusannya” dan keluar rumah dengan sukacita mewarnai wajahnya. Ketika Hafsa mendapatinya dalam kondisi demikian, ia menegur nabi dan berkata, “Engkau tidak menghargai kehormatanku; engkau menyuruhku keluar dari rumahku sebagai alasan agar engkau dapat meniduri budak perempuan”. Kemudian nabi berkata, “Diamlah, karena walaupun dia adalah budakku dan halal bagiku, demi kepuasanmu saat ini  aku akan mengharamkannya untukku”. Tetapi Hafsa tidak melakukannya dan ketika nabi keluar dari rumahnya, ia menggedor dinding yang memisahkan kamarnya dari kamar Aisyah dan menceritakan semuanya kepadanya. Ia juga menyampaikan kabar gembira bahwa nabi telah berjanji untuk mengharamkan Mariyah baginya. [Diterbitkan oleh Entesharat-e Elmiyyeh Eslami  Tehran 1377 H. Tafsir dan terjemahan ke dalam bahasa Farsi oleh Mohammad Kazem Mo’refi].

Mariyah adalah seorang wanita Koptik muda berkulit putih dan sangat cantik. Ia melahirkan Ibrahim bagi Muhammad. Saya meragukan kebenaran bahwa Ibrahim adalah anak Muhammad, karena berdasarkan riset saya, Muhammad dalam tahun-tahun terakhirnya menderita acromegali. Salah satu dampak negatif dari penyakit degeneratif ini adalah impotensi. Ia mengalami disfungsi ereksi. Ingat bahwa Muhammad mempunyai enam orang anak dari Khadijah yang telah berusia 40 tahun ketika ia menikahi wanita itu, tetapi ia tidak mendapatkan anak dari lebih 20 orang wanita muda yang berhubungan seks dengannya dalam sepuluh tahun terakhir hidupnya. Ada hadis-hadis yang menunjukkan, ia sebenarnya tidak bersetubuh dengan istri-istrinya, tetapi hanya “mencumbui” mereka, dan seringkali ia menggilir satu istri ke istri lainnya dalam semalam hanya untuk menyentuh mereka dan bermain-main dengan mereka, “meminum madu mereka”, tetapi tidak bersetubuh. (untuk detil lebih banyak mengenai kehidupan seks Muhammad lihat buku saya “Understanding Muhammad”).

Hadis lainnya mengatakan, nabi biasa berimajinasi melakukan hubungan seksual (lihat: “Imagine Having Sex“), padahal dalam realita ia tidak melakukannya.  

Bukhari Vol. 7:  71:660:

Dikisahkan Aisyah: Sihir menimpa Rasul Allah sehingga ia selalu berpikir bahwa ia melakukan hubungan seksual dengan istri-istrinya, padahal tidak”.

Aisha juga pernah mengatakan “Tidak seorangpun di antara kalian yang mempunyai penguasaan diri seperti nabi karena ia dapat mencumbu istri-istrinya tetapi tidak bersetubuh”. Wanita muda yang tidak berpengalaman ini tidak menyadari bahwa suaminya yang terhormat ini bukan sedang mengendalikan dirinya; ia memang tidak dapat melakukannya. Cialis dan Viagra pada waktu itu belum dibuat.   

Namun demikian, ada lubang dalam teori saya. Jika Muhammad impoten, bagaimana ia dapat memperanakkan Ibrahim? Saya menduga anak itu adalah anak orang lain, tetapi tidak ada bukti untuk itu. Namun kemudian saya mendapatkan buktinya. Dalam Tabaqat yang sama, ketika berbicara mengenai Mariyah yang mengatakan bahwa ada seorang pria Koptik di Medina (orang yang mendampinginya dari Mesir ke Medina) yang selalu mengunjungi Mariyah, dan kabar burung yang beredar mengatakan bahwa pria itu adalah kekasihnya.  

Setelah berselisih dengan istri-istrinya, Muhammad memindahkan Mariyah ke sebuah taman di utara Medina. Disana ia dapat mengunjunginya tanpa sepengetahuan istri-istrinya. Situasi ini memberikan kesempatan besar untuk kekasih Mariyah mengendap-endap masuk ke rumahnya tanpa diketahui siapapun. Tetapi pasti ada orang yang pernah melihatnya masuk ke dalam rumah Mariyah dan kabar burung itu terdengar oleh Muhammad yang kemudian mengutus Ali untuk membunuh pria Koptik itu. Kisah ini mengatakan bahwa pria itu menunjukkan dirinya kepada Ali, dan ketika Ali melihat bahwa ia adalah seorang kasim (sudah dikebiri), Ali membiarkannya hidup. 

Nampaknya, ini adalah alibi yang memuaskan untuk membungkam orang banyak. Aisyah dituduh berselingkuh dengan Safwan, seorang pria muda yang tinggal di Medina. Kemudian ia mengklaim bahwa Safwan adalah seorang kasim. Perselingkuhan ini juga menimbulkan skandal besar yang memusingkan Muhammad selama sebulan, hingga Allah harus campur tangan dan bersaksi demi Aisyah. Lalu bagaimana bisa, tidak seorangpun yang tahu bila Safwan adalah seorang kasim?  

Kisah ini jelas dibuat-buat. Bagaimana pria Koptik ini dapat mengetahui mengapa Ali ingin membunuhnya sehingga ia kemudian menunjukkan kelaminnya (yang tinggal sedikit) segera setelah ia melihat Ali? Ibn Sa’d, penulis Tabaqat mengatakan, ia melihat Ali dengan pedang di tangannya lalu memanjat pohon Kurma dengan ketakutan dan dari atas pohon itu ia menunjukkan bagian tubuhnya yang pribadi (aurat). Tidak ada percakapan sama sekali. Pria itu tahu begitu saja mengapa Ali mendatanginya dan hendak membunuhnya. Ini tidak terdengar seperti cerita yang benar. Mengapa seorang utusan Tuhan ingin membunuh seorang pria yang tidak berdosa dan bagaimana orang itu dapat mengetahui mengapa Ali ingin membunuhnya? Nampaknya pria Koptik ini mempunyai pengetahuan yang lebih baik mengenai hal-hal yang tersembunyi daripada nabi Allah.

Bukhari 2.018.153 mengatakan bahwa “Gerhana matahari terjadi dalam masa hidup Rasul Allah ketika (putranya) Ibrahim wafat. Lalu orang mengatakan bahwa matahari mengalami gerhana karena kematian Ibrahim. Rasul Allah berkata, “Matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan (yaitu kelahiran) seseorang. Apabila engkau melihat gerhana, berdoalah dan sebutlah nama Allah”. 

Bukhari 2.018.154 menambahkan: 

Ketika terjadi gerhana matahari, ia [Muhammad] memimpin orang banyak bersembahyang … kemudian (gerhana) matahari berlalu. Ia menyampaikan khotbah dan setelah memuji dan memuliakan Allah ia berkata, “Matahari dan bulan adalah dua tanda yang bertentangan dengan tanda-tanda Allah; mereka tidak mengalami gerhana oleh karena kematian atau kehidupan seseorang. Jadi apabila engkau melihat gerhana, ingatlah Allah dan serukanlah Takbir, berdoalah dan berikanlah Sedekah”. Kemudian nabi berkata, “Wahai para pengikut Muhammad! Demi Allah! Tidak ada seorangpun yang mempunyai ghaira (penghargaan diri – kehormatan) yang lebih daripada Allah karena Ia telah melarang para hamba-Nya, pria atau wanita melakukan perzinahan (hubungan seksual yang terlarang). Wahai para pengikut Muhammad! Demi Allah! Jika kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu akan tertawa sedikit dan banyak meratap”.

Ghaira adalah hal yang sangat penting sehingga orang Muslim melakukan pembunuhan demi kehormatan. Jika anda memandangi istri atau anak perempuan seorang pria Muslim, ghaira-nya (secara kasar diterjemahkan sebagai kehormatan) akan ternodai. Jika ia tidak bereaksi, itu menunjukkan bahwa ia hanya mempunyai sedikit ghaira. Semakin besar ghaira-nya maka reaksinya akan semakin kejam.  

Diskusi mengenai perzinahan, sangat penting dilakukan pada kesempatan ini. Mengapa Muhammad membicarakan perzinahan, terutama berkaitan dengan seorang anak yang bukan putranya? Tidak sulit membayangkan bahwa ia sedang memikirkan hal itu dan barangkali mengetahui bahwa Ibrahim bukanlah anaknya. Dalam khotbahnya Muhammad berbicara mengenai Allah yang mempunyai banyak ghaira  dan kemudian berbicara mengenai larangan berzinah. Ia menutup khotbahnya dengan mengatakan bahwa ia mengetahui hal-hal yang sangat menyedihkan yang tidak diketahui orang lain. Nah, itu memakan waktu 1400 tahun, tapi menurut saya akhirnya kita mengetahui apakah “hal-hal yang menyedihkan” itu. 

Poin lainnya yang harus diingat adalah, walau ada fakta bahwa Mariyah adalah satu-satunya wanita yang melahirkan anak bagi Muhammad, ia tidak menikahi perempuan itu. Mengapa ia tidak ingin menikahi wanita yang melahirkan satu-satunya anak laki-laki baginya?

Bukhari 2.018.161 dalam versi lain hadis ini mengatakan, “Berkisahlah ‘Abdullah bin Abbas:

“Kemudian nabi berkata, “Matahari dan bulan adalah dua tanda Allah. Mereka ‘menjadi’ gerhana bukan karena kematian seseorang ataupun karena hidupnya (yaitu kelahirannya). Jadi bila engkau melihatnya, ingatlah Allah”. Orang-orang berkata, “Wahai Rasul Allah! Kami melihat engkau mengambil sesuatu dari tempatmu dan kemudian kami melihatmu mundur”. Nabi menjawab, “Aku melihat Firdaus dan menjulurkan tanganku ke sekumpulan (buahnya) dan seandainya aku telah mengambilnya, kamu pasti sudah akan memakannya selama dunia ini masih ada. Aku juga melihat api neraka dan aku belum pernah melihat pemandangan yang sangat mengerikan seperti itu sebelumnya. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah perempuan”. Orang-orang bertanya, “Wahai Rasul Allah! Mengapa demikian?” Nabi menjawab, “Karena mereka kurang berterima-kasih”. Kemudian ditanyakan apakah mereka kurang berterima-kasih kepada Allah. Nabi berkata, “Mereka tidak berterima-kasih kepada pasangan hidup mereka (suami) dan tidak berterima-kasih atas perbuatan-perbuatan baik. Jika kamu berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka seumur hidup, dan jika ia melihat apapun (yang tidak berkenan) dalam dirimu, ia akan berkata, ‘Aku belum pernah menerima apapun yang baik darimu’”. 

Pada pemakaman putra tunggalnya Muhammad tidak mengatakan apapun mengenai anaknya itu. Pria yang berpendapat, tidaklah adil mengatakan bahwa Allah hanya mempunyai anak-anak perempuan ketika orang menyombongkan diri karena mempunyai anak-anak laki-laki, sekarang telah kehilangan putra tunggalnya. Namun pada hari kematian anaknya itu, ia memilih untuk berbicara mengenai perzinahan dan hukuman yang menanti kaum wanita yang tidak berterima-kasih pada suami-suami mereka. Ini benar-benar luar-biasa, bukan?