Mesjid Al Aqsa: Kesalahan Muhammad

Diposkan oleh Ali Sina, tanggal 8 Desember 2010

Ada sebuah hadis yang melaporkan bahwa pada suatu malam, Muhammad mengendarai seekor kuda yang mempunyai sayap, yang mana kuda tersebut membawanya dari Masjidil Haram (Mesjid yang ada Ka’bah) ke Mesjid Al Aqsa (yang ada di Yerusalem), dan dari sana kemudian membawanya ke langit ke-7 dimana diperlihatkan padanya neraka dan firdaus, lalu kemudian ia dibawa ke hadapan hadirat Allah. Kisah ini – yang umumnya dipercayai oleh semua orang Muslim dan dikenal sebagai Mi’raj – juga dikonfirmasi oleh Al Qur’an.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya” (Quran 17:1)

Di sini kita tidak akan membahas mengenai (about) kemustahilan dari perjalanan tersebut. Jika Tuhan itu Maha hadir (omnipresent), mengapa seseorang perlu pergi ke suatu tempat untuk bertemu dengannya? Jika Muhammad bisa melakukan perjalanan dari Mekah ke istana Allah, mengendarai seekor kuda yang bersayap, dan kemudian kembali dalam satu malam, maka tahta Allah tak mungkin berada jauh dari Mekah. Saya heran, mengapa tak seorang pun telah menemukannya?

Apakah Tuhan itu berada di dalam jagat raya atau di luar jagat raya? Jika Dia ada di dalamnya, maka ia diisi dengan jagat raya itu dan karenanya tak mungkin Ia bersifat tak terbatas. Jika Dia ada di luar jagat raya, maka ia pastilah sejauh milyaran tahun cahaya dari kita dan karena itu tak ada seekor kuda bersayap manapun bisa mencapai tahtaNya dalam satu malam dan kemudian kembali pada malam itu juga. Kisah ini secara sederhana bisa kita katakan sebagai sebuah dongeng belaka.

Kita juga tidak akan bertanya, mengapa Muhammad harus berhenti di Yerusalem terlebih dahulu sebelum pergi ke Surga. Apakah ada sebuah pintu gerbang surga di Yerusalem?

Masalah yang ingin kita diskusikan adalah bahwa Mesjid Al Aqsa, sebagai “Mesjid Terjauh”, belum eksis pada masa Muhammad hidup.

Bait Suci Pertama di situs tersebut dibangun pada tahun 960 BC, yang menurut kesaksian Alkitab didirikan oleh Salomo untuk menaruh Tabut Perjanjian yang sudah dibawa oleh Daud ayahnya, ke Yerusalem. Bait Suci itu dimusnahkan sama sekali oleh orang-orang Babilonia pada tahun 586 BC.

Bait Suci Kedua dibangun oleh Herodes pada tahun 20 BC

Bait Suci Kedua dibangun kembali pada tahun 515 BC, kemudian dibangun ulang oleh Herodes pada tahun 20 BC dan dihancurkan oleh Jenderal Titus (Roma) pada tahun 70 AD.

Dome of the Rock

Ketika Kalifah Omar Ibn al-Khattab menaklukkan Yerusalem pada tahun 638 AD, ia melaksanakan sholat di situs dimana Bait Suci Salomo dulunya berdiri. Kemudian Kalifah ‘Abd al-Malik ibn Marwan membangun sebuah mesjid di sekitar situs tersebut pada sekitar tahun 691 AD.

Menurut dugaan orang, Muhammad melaksanakan Mi’raj di sekitar tahun 621 AD. Ada jurang waktu selama 70 tahun antara peristiwa Mi’raj dengan pembangunan Mesjid Al Aqsa. [Hal ini dilaporkan dalam The Concise Encyclopedia of Islam Harper & Row, 1989, p. 46 and 102.]

Bagaimana bisa, Muhammad menyebutkan Mesjid Al Aqsa, ketika mesjid tersebut belum ada? Apakah Muhammad tidak tahu bahwa Bait Suci orang Yahudi sudah dihancurkan pada tahun 70 AD atau isi Qur’an sendiri dimanipulasi dan ‘semakin diperkaya dengan informasi tambahan’ bertahun-tahun setelah kematian penulisnya, yaitu dengan mengijinkan dongeng-dongeng yang dibangun di sekitar Muhammad semakin berkembang setelah kematiannya?

Dalam pendapat saya, alasannya ada pada yang terakhir. Muhammad adalah seorang pria yang buta huruf. Pengetahuannya terbatas hanya pada apa yang ia dengar dari orang lain – pembaca cerita dan para imam. Referensinya terhadap kisah-kisah historis dan Alkitab sangat tidak lengkap. Seringkali ia menyebutkan sebuah nama yang ia dengar kemudian menyebutkan sebuah peristiwa yang berkaitan dengan nama tersebut, namun yang terjadi adalah – oleh karena pengetahuannya sangat terbatas – acapkali ia melakukan kesalahan-kesalahan. Hanya inilah yang bisa kita harapkan dari seorang pria yang tidak diperlengkapi dengan buku-buku dan yang sumber pengetahuannya hanya didasarkan pada apa kata orang.

Boleh jadi orang-orang Muslim berargumen bahwa “Mesjid” artinya semua tempat ibadah (sojda), itulah sebabnya mengapa rasul mengkaitkan bait suci Salomo sebagai Mesjid. Dengan demikian, semua gereja, sinagoga dan Ateshkadehs Zoroastrian adalah mesjid-mesjid. Pada masa Muhammad, ada sangat banyak “mesjid” yang dibangun di kota-kota yang lebih jauh dari Yerusalem (misalnya lebih jauh dari Mekah dan Medina), dan bahwa Mesjid Aqsa sebenarnya bukanlah mesjid terjauh.

Ini adalah sebuah blunder (kesalahan fatal) yang sangat kasat mata yang dilakukan oleh Muhammad, sehingga banyak dari sarjana Islam, termasuk Yusuf Ali mempunyai pendapat bahwa Mesjid Aqsa yang dimaksudkan oleh Qur’an, dimaksudkan sebagai TEMPAT dimana mesjid akan dibangun, dan bukan sebuah bangunan yang aktual.

Apologetika seperti ini bisa menjadi jalan keluar dari dilema yang harus dihadapi Muslim, jika tidak ada hadis berikut yang menjelaskan bahwa Mesjid Al Aqsa sesungguhnya adalah bangunan aktual yang dikatakan sudah ada pada masa Muhammad masih hidup.

Sahih Bukhari, Volume 4, Buku 55, Nomor 636:

Diriwayatkan oleh Abu Dhaar:

Aku berkata,”Oh Rasul Allah! Mesjid yang mana yang dibangun pertama kali?” Ia menjawab,” Al-Masjid-ul-Haram.” “Aku bertanya,”Yang mana yang (akan dibangun) setelah itu?” Ia menjawab “Al-Masjid-ul-Aqsa (yang ada di Yerusalem).” “Berapa lama periode di antara kedua mesjid tersebut?” Ia menjawab,”Empat puluh (tahun).” Kemudian ia menambahkan,”ketika waktunya sholat datang padamu, laksanakanlah sholat, sebab seluruh bumi adalah tempat untuk kamu beribadah.”

Tetapi hadis ini pun masih menghadirkan masalah lain. Menurut orang-orang Muslim, Masjidil Haram (Ka’bah) dibangun oleh Abraham yang hidup tahun 2000 BC dan Bait Suci Salomo (situs dimana Mesjid Al Aqsa terletak), dibangun pada tahun 958-951 BC. Di sini ada jurang waktu selama lebih dari 1040 tahun antara tahun pembangunan kedua bangunan tersebut.

Sumber: “Mesjid Al Aqsa” – Kesalahan Muhammad