Apakah Arti Spiritualitas?

Ada banyak jalan menuju spiritualitas. Islam tidak termasuk di dalamnya. Apapun yang membuat anda menjadi orang yang lebih baik adalah jalan yang spiritual. Semakin anda menenggelamkan diri dalam Islam, maka jiwa anda akan semakin gelap. Anda dilahirkan untuk membawa terang Tuhan, tapi sekali saja anda mulai mengikuti Muhammad, anda menjadi jahat. Pikiran-pikiran anda menjadi demonis. Kebencian terhadap sesama memenuhi hati anda, dan tidak memberikan tempat bagi kasih. Anda menjadi manifestasi Iblis. Bahkan wajah orang-orang Muslim yang saleh pun menunjukkan kejahatan. Yang mengherankan adalah, orang menjadi jelek ketika mereka menjadi orang Muslim yang saleh. Saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini secara rasional tetapi ini adalah fakta yang telah diobservasi. Lihat saja wajah para teroris. Mereka adalah orang-orang Muslim yang saleh. Atau lihatlah wajah para pemimpin partai Islam. Ada sesuatu yang sangat jahat di mata mereka. Islam adalah kredo yang anti spiritual. Islam tidak membuat anda menjadi orang yang lebih baik. Semakin anda mengikutinya, anda akan menjadi semakin buruk. Islam adalah kredo yang membuat malaikat menjadi setan. Jika saya percaya kepada setan, saya akan mengatakan bahwa Islam adalah rancangan setan untuk menghancurkan dunia ini dan membawa semua orang ke neraka.

Diposkan oleh Ali Sina pada 27 Oktober 2012

 


Gambar Ilustrasi: Pembantaian warga Ahmadiyah di Cikeusik-Banten oleh massa Muslim yang beringas. Majelis hakim hanya menghukum para pelaku dengan penjara 3-6 bulan. Hukuman yang sama yang biasa dijatuhkan terhadap maling ayam.

 

Seseorang mengirimi saya surel dan bertanya apakah spiritualitas itu ada? Ini seperti bertanya apakah rasionalitas, kecerdasan atau kasih itu ada? Sudah tentu spiritualitas itu nyata. Pertanyaannya adalah bagaimanakah anda mendefinisikannya?

Secara etimologis, spiritualitas berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan roh atau jiwa, dan tidak berkaitan dengan alam fisik/jasmaniah dan materi.

Bagi seorang Kristen, spiritualitas berarti mempunyai hubungan yang intim dan personal dengan Tuhan yang eksis di luar ciptaan dan yang telah menyatakan diri-Nya sendiri dalam wujud manusia dalam pribadi Yesus Kristus, seperti matahari yang memancarkan sinarnya ke cermin.

Orang-orang sekuler yang non religius mendefinisikan spiritualitas dengan sebuah istilah yang humanistis. Mereka menekankan moralitas dan kualitas-kualitas seperti kasih, belas kasihan toleransi, pengampunan, tanggung-jawab, dan kepedulian kepada orang lain, serta “aspek-aspek kehidupan dan pengalaman manusia yang melampaui pandangan materialis murni mengenai dunia tanpa perlu menerima keyakinan akan suatu realita supranatural atau keberadaan ilahi.” 1

Jadi, definisi dasar dari spiritualitas adalah kualitas kepekaan seseorang terhadap hal-hal yang bukan materi dan jasmaniah. Makan, minum, kesenangan fisik dan seks adalah fungsi-fungsi tubuh, sedangkan cinta, keadilan, belas kasihan dan kebaikan adalah buah-buah roh. Semua ini adalah kualitas-kualitas yang tidak dapat secara langsung dipahami oleh indera kita tetapi dapat dirasakan dengan sangat kuat dan pengaruhnya dapat disimpulkan oleh pengamatan-pengamatan kita.

Bagi kebanyakan orang, spiritualitas berarti fokus pada “kehidupan batin”. Definisi ini lebih kurang diterima oleh orang orang dari semua agama maupun yang tidak beragama.

Yang terpenting dari pemahaman ini adalah pemikiran bahwa kita memandang manusia, dan juga seluruh ciptaan, sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar materi. Pemahaman ini mengatakan bahwa ada realita dalam semua makluk hidup yang non materi, tidak kasat mata, dan melampaui pengetahuan kita sekarang. Ada sesuatu dalam diri kita yang lebih dari apa yang dapat kita rasakan dengan indera kita. Kita bukanlah orang yang sama dengan diri kita 20 tahun yang lalu. Setiap sel dan setiap atom dalam tubuh kita berubah namun saya masih orang yang sama demikian pula anda. Ada sesuatu yang konstan dalam diri kita. Itulah yang kita sebut “aku”. Atribut-atribut si “Aku” berubah, tetapi si “Aku” itu sendiri tidak berubah.

Akankah si “Aku” binasa setelah tubuh kita berhenti berfungsi atau apakah ia masih akan tetap hidup? Apakah ia merupakan suatu fungsi tubuh, seperti cahaya dalam bola lampu, atau sebuh komponen dalam bola lampu, seperti listrik? Jika si “Aku” adalah sebuah fungsi maka bolehlah kita berkata bahwa fungsi tersebut berhenti ketika instrumennya tidak lagi bekerja. Tetapi jika si “aku”adalah sebuah komponen, orang dapat berpendapat bahwa si “aku” dapat tetap hidup sekalipun intrumen tidak lagi bekerja. Listrik tetap eksis sekalipun lampu itu dibakar. Kita tidak akan membahas hal itu sekarang. Pertama-tama karena itu sangat rumit dan kedua karena saya tidak tahu jawabannya. Marilah kita mengatakan saja si “Aku” adalah roh kita.

 

Spiritualitas Itu Bukan …

Saya tidak berharap untuk memahami spiritualitas secara rasional. Jika spiritualitas didefinisikan sebagai cinta, belas kasihan, toleransi dan pengorbanan, maka hanya ada sedikit ruang bagi nalar untuk menjelaskannya. Orang yang melompat ke dalam sungai es dan membahayakan hidupnya sendiri untuk menyelamatkan nyawa seorang asing tidak bertindak berdasarkan nalar. Tindakan orang itu hanya dapat dipahami sebagai sebuah tindakan yang spiritual.

James Martin dalam bukunya yang berjudul “My Life with the Saints,” yang diterbitkan pada tahun 2006, menceritakan sebuah kisah mengenai Ibu Theresa. Seorang pria melihat Ibu Theresa membersihkan luka-luka seorang penderita kusta dan berkata, “Saya tidak akan melakukannya walau dibayar satu juta dollar”. Ibu Theresa menjawab, “Saya juga tidak mau”.

Tindakan Ibu Theresa tidak dapat dijelaskan secara rasional. Tetapi dapat dipahami secara spiritual. Ia melakukannya karena kasih. Ia berkata kepada pria itu, “Tetapi dengan senang hati saya akan melakukannya bagi Kristus”. Ia melihat Kristus atau Tuhan dalam diri orang kusta itu.

Tidak ada cara untuk menjelaskan hal ini secara rasional, tetapi juga tidak dapat diabaikan.  Ini menginspirasi kita, mengangkat dan menjadikan kita lebih baik.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (2:14) Paulus menulis, “

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Tuhan, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Jika ayat ini digunakan untuk menjelaskan kasih Ibu Theresa, maka tindakannya itu masuk akal. Apa yang dilakukannya hanya dapat dipahami secara spiritual. Tetapi jika kita mengambil ayat ini sebagai lisensi untuk meyakini omong kosong apa saja, segala absurditas dan “non sense” maka itu bukanlah spiritualitas. Itu hanya kebodohan semata.

Sebagai contoh, mari kita memperhatikan kisah penciptaan dalam kitab Kejadian. Interpretasi harafiah terhadap kitab tersebut berlawanan dengan sains, nalar, dan akal sehat. Sungguh bodoh jika menerima penjelasan mengenai asal mula dunia ini. Kisah itu terbukti salah. Cinta dan pengorbanan, walaupun tidak dapat dijelaskan secara rasional, kita tidak dapat menentangnya. Jadi, kita harus jelas mengerti bahwa spiritualitas tidak berarti kebodohan.

Jika spiritualitas berarti kita harus menerima segala sesuatu dengan menentang nalar, tidak kritis dan buta, lalu bagaimana kita dapat membedakan kebenaran dari kepalsuan? Bagaimana kita dapat menolak klaim-klaim absurd yang dibuat oleh Muhammad atau penipu-penipu lainnya? Akankah kita mempercayai Mi’raj Muhammad, atau klaim-klaim absurdnya yang lain? Jika tidak, lalu mengapa tidak? Jika setiap klaim yang tidak masuk akal harus diterima secara spiritual maka kita tidak mempunyai alat untuk memisahkan gandum dari alang-alang dan membedakan kebenaran dari kepalsuan.


Apakah Spiritualitas Selaras Dengan Nalar?

Spiritualitas yang sejati tidak pernah bertentangan dengan nalar. Anda harus mempunyai pemahaman tentang seni dan keindahan agar dapat mengapresiasi sebuah simponi atau lukisan. Demikian pula, anda harus mempunyai kesadaran spiritual agar dapat memahami harmoni alam semesta.

Pemikir-pemikir besar dunia seringkali adalah orang-orang yang spiritual. Dalam bukunya, Einstein: His Life and Universe , Walter Isaacson menulis, “Mungkin kelihatannya logis, jika melihat ke belakang, kombinasi takjub dan pemberontakan menjadikan Einstein eksepsional sebagai seorang ilmuwan. Namun tidak banyak diketahui bahwa hal-hal tersebut juga bergabung untuk membentuk perjalanan spiritualnya dan menentukan natur imannya. Pemberontakan terjadi pada permulaan hidupnya: pada mulanya ia memberontak terhadap sekularisme orangtuanya dan kemudian terhadap konsep-konsep ritual keagamaan dari Tuhan yang personal yang melibatkan diri dalam keseharian dunia ini. Tetapi ia diliputi rasa takjub pada saat ia berusia 50-an ketika ia meyakini “Deisme” yang berdasar pada apa yang disebutnya sebagai “roh yang mewujud dalam hukum-hukum alam semesta” dan ia menjadi seorang pemercaya sejati kepada “Tuhan yang menyatakan diri-Nya dalam harmoni segala sesuatu yang eksis”.

Orangtua Einstein yang beragama Yahudi telah menjadi “sangat Jerman dan sekuler”. Mereka tidak menjalankan kosher atau pergi ke sinagoga. Ayahnya, Herman, menganggap ritual-ritual Yahudi sebagai “takhayul kuno”. Jadi ketika tiba waktunya bagi Albert untuk bersekolah, mereka memasukkannya ke sekolah yang lebih dekat dan tidak peduli jika itu adalah sekolah Katolik.

Sebagai satu-satunya anak Yahudi di antara 70 siswa di kelasnya, Einstein mengikuti pelajaran utama yaitu agama Katolik dan kemudian ia jatuh cinta kepada Yesus. Beberapa dekade kemudian ia berkata, “Saya seorang Yahudi, tetapi saya terpesona pada tokoh dari Nazaret yang memberikan pencerahan”.

Ketika ia berusia 10 tahun, seseorang memberikan padanya sebuah buku sains yang dibacanya dengan perhatian penuh. Pada usia 12 tahun ia benar-benar menolak Tuhan. Kemudian ia menulis, “Oleh karena membaca buku-buku sains popular, segera saya mencapai keyakinan bahwa banyak kisah dalam Alkitab yang tidak benar. Konsekuensinya adalah kegilaan fanatik yang positif dari kebebasan berpikir, ditambah kesan bahwa orang muda dengan sengaja ditipu oleh negara dengan kebohongan-kebohongan; itu adalah kesan yang menghancurkan”.

Bagaimanapun, Einstein mempunyai iman yang kokoh, dan penghormatan terhadap harmoni dan keindahan dari apa yang disebutnya sebagai pikiran Tuhan seperti yang tercermin dalam penciptaan alam semesta dan hukum-hukumnya.

Dalam sebuah jamuan makan malam, ketika Einstein berusia 50 tahun, seorang tamu menunjukkan keyakinannya pada astrologi. Einstein mencela pemikiran tersebut sebagai takhayul belaka. Tamu lainnya turut berbicara dan juga menghina agama. Ia bersikeras bahwa keyakinan kepada Tuhan juga adalah sebuah takhayul. Mendengar hal itu tuan rumah berusaha membungkamnya dengan mengemukakan fakta bahwa Eistein sekalipun memiliki keyakinan-keyakinan religius. “Itu mustahil!” kata tamu yang skeptis, dan berpaling kepada Einstein untuk bertanya apakah ia benar adalah orang yang religius. “Ya, anda dapat menyebutnya demikian”, jawab Einstein dengan tenang. “Cobalah berusaha menyelami rahasia-rahasia alam dengan pikiran kita yang terbatas maka anda akan menemukan bahwa, di balik semua hukum dan koneksi yang dapat dipahami, masih ada sesuatu yang rumit, tidak berwujud, dan tidak dapat dijelaskan. Penghormatan terhadap kekuatan yang berada di balik segala sesuatu yang dapat kita pahami, adalah agama saya. Pada tingkatan ini, saya benar-benar adalah seorang yang religius”. (Isaacson)

Ketika ditanya apakah ia percaya kepada Tuhan, Einstein menjawab, “Saya bukan ateis. Saya pun tidak dapat menyebut diri saya seorang yang panteis. Masalah yang terkait di dalamnya jauh melampaui pikiran kita yang terbatas. Kita berada pada posisi seorang anak kecil yang memasuki perpustakaan yang sangat besar yang dipenuhi banyak buku dalam berbagai bahasa. Anak itu tahu pasti ada orang yang menulis buku-buku itu. Ia tidak tahu bagaimana buku-buku itu ditulis. Ia juga tidak memahami berbagai bahasa buku-buku tersebut. Anak itu diam-diam memperkirakan ada tatanan misterius dalam penyusunan buku-buku tersebut tetapi ia tidak tahu apa itu. Bagi saya, hal itu nampaknya adalah sikap yang paling cerdas dari seorang manusia terhadap Tuhan. Kita melihat alam semesta ini ditata dengan sedemikian indahnya dan mematuhi hukum-hukum tertentu tetapi kita tidak dapat banyak mengerti hukum-hukum tersebut.

Saya menyebut diri saya seorang ateis. Bukannya saya tidak percaya kepada Tuhan. Saya tidak percaya kepada sesembahan yang diajarkan kepada kita. Ketika Galileo menolak geosentrisme, ia tidak menolak alam semesta; ia menolak pemahaman orang-orang mengenai alam semesta. Demikian pula, saya menolak pandangan orang-orang mengenai Tuhan. Dalam realita, sesembahan saya tidak jauh berbeda dari sesembahan Einstein, walaupun saya percaya bahwa saya lebih ke arah panteisme. Saya tidak mencari Tuhan dalam teks-teks religius, dalam gereja dan kuil-kuil. Saya mencari-NYA dalam melodi kehidupan – pada wajah anak-anak, dan tidak hanya anak-anak manusia, anak-anak dari semua ciptaan. Bagi saya Tuhan adalah segala sesuatu yang memancarkan kasih. “Tuhan” tidak ada di langit; tetapi di dalam diri setiap orang dan hewan. Seperti yang dikatakan Pierre Teilhard de Chardin, “Kita bukanlah manusia yang mempunyai pengalaman spiritual; kita adalah makluk spiritual yang mempunyai pengalaman manusia”.

 

Bayi adalah sumber spiritualitas saya. Saya melihat Tuhan dalam diri semua anak.

 

Bagaikan sinar matahari yang menyinari berbagai benda dan merefleksikannya kembali dengan cara yang berbeda, setiap orang dilahirkan sebagai suatu manifestasi Tuhan merefleksikan “Aku” dengan cahaya yang berbeda-beda. Saya melihat Tuhan dalam setiap makluk hidup dan oleh karena itulah saya menghargai hidup. Menurut saya penghargaan terhadap kehidupan unsur yang penting dari spiritualitas. Dalam sebuah wawancara, Bill Maher ditanya bagaimana ia dapat memberi dukungan terhadap aborsi, yang berlandaskan …. Ia mengatakan kehidupan tidaklah terlalu berharga, bahkan anjing pun dapat melakukannya (melahirkan makluk hidup). Saya berharap saya dapat bertanya padanya apakah menurutnya hidupnya juga tidak berharga atau hanya hidup orang lain yang tidak berharga.

Bagi saya, kehidupan adalah hal yang paling berharga yang eksis. Lihatlah betapa luasnya alam semesta dan betapa kecilnya ukuran bumi ini di dalamnya. Sejauh yang kita ketahui, bumi ini hanyalah satu-satunya tempat dimana kehidupan dapat eksis. Segala sesuatu yang jumlahnya jarang atau tidak banyak, adalah sesuatu yang berharga. Tidak ada yang lebih sedikit daripada kehidupan. Ada matahari-matahari mati (planet) yang keseluruhannya terbuat dari berlian. Saya tidak berbicara mengenai gunung-gunung berlian.  Semua bintang terbuat dari berlian. Bintang-bintang mati lainnya penuh dengan besi-besi berat seperti emas, platinum dan perak. Yang jarang ada hanyalah kehidupan.

Orang sering salah mengerti atau barangkali dengan sengaja salah menafsirkan keyakinan-keyakinan religius Einstein. Jadi, pada musim semi 1930 ia menuliskan sebuah kredo yang berjudul “Apa Yang Kupercayai”. Ia menjelaskan: “Emosi yang paling indah yang dapat kita rasakan/alami adalah yang misterius. Itu adalah emosi mendasar yang dapat bertahan di hadapan semua seni dan sains yang sejati. Orang yang asing dengan emosi ini, yang tidak dapat lagi bertanya-tanya dan merasa takjub, sama dengan orang yang sudah mati, lilin yang sudah ditiup. Beranggapan bahwa di balik segala sesuatu yang dapat dialami ada sesuatu yang tidak dapat dicerna oleh pikiran kita, yang keindahan dan kemegahannya mencapai kita hanya secara tidak langsung: ini adalah keagamaan. Dalam pengertian ini, dan hanya dalam pengertian ini sajalah, saya adalah seorang religius yang bertaqwa”.

Pernyataan ini tidak memuaskan orang-orang yang menginginkan jawaban langsung mengenai apakah Einstein percaya kepada Tuhan atau tidak. Pemimpin Yahudi Ortodoks di New York, Rabbi Herbert S. Goldstein, mengirim sebuah telegram langsung kepada Einstein: “Apakah anda percaya kepada Tuhan? Jawaban sudah dibayar. 50 kata”. Einstein hanya menggunakan sekitar separuh jumlah kata yang telah dibayarkan untuknya. Jawabannya menjadi versi yang paling terkenal dari jawaban yang seringkali ia berikan: “Saya percaya kepada sesembahannya Spinoza, yang menyatakan diri dalam keselarasan sah dari semua yang eksis, tetapi tidak kepada sesembahan yang mengkaitkan diri dengan takdir dan perbuatan-perbuatan manusia”.

Walaupun ia menolak penafsiran ortodoks mengenai Tuhan, Einstein konsisten menolak tuduhan bahwa ia adalah seorang ateis. “Ada orang-orang yang berkata Tuhan itu tidak ada”, ujarnya kepada seorang teman. “Tetapi yang membuat saya benar-benar marah adalah mereka mengutip pernyataan saya untuk mendukung pandangan seperti itu”.

Berbeda dengan banyak penganut ateis pada masanya dan pada masa kini, Einstein tidak pernah mengkritik dengan tidak adil orang-orang yang percaya kepada Tuhan; alih-alih ia cenderung mencela orang-orang yang ateis. “Yang memisahkan saya dengan orang-orang yang ateis adalah perasaan/sikap berani merendahkan diri di hadapan rahasia-rahasia yang tidak tersingkapkan dari harmoni kosmos”, jelasnya.

“Kenyataannya, Einstein cenderung menjadi pengkritik pedas terhadap kepalsuan, yang nampaknya kurang rendah hati atau kurang memiliki rasa takjub, ketimbang orang-orang beriman”, tulis Isaacson. “Orang-orang ateis yang fanatik”, tulisnya dalam sebuah surat, “seperti budak-budak yang masih merasakan beratnya rantai mereka yang telah mereka lepaskan setelah berjuang dengan sangat keras. Mereka adalah makluk-makluk yang  – dalam sungut-sungut mereka terhadap agama tradisional sebagai ‘candu masyarakat’ – tidak dapat mendengar musik alam semesta”.

Untuk menghindari kesalahpahaman, ia juga menekankan, “Sumber utama konflik di masa kini antara ranah agama dengan sains terletak dalam konsep mengenai Tuhan yang personal”.

Einstein tidak percaya kepada hal-hal supranatural. “Bagi segelintir orang”, tulis Isaacson, “Mujizat adalah bukti eksistensi Tuhan. Bagi Einstein ketiadaan mujizatlah yang merefleksikan pemeliharaan ilahi. Fakta bahwa dunia ini tidak terpahami, yang mengikuti hukum-hukumnya, pantas mendapatkan rasa takjub”.


Spiritualitas Dalam Islam

Setelah saya memberikan deskripsi singkat mengenai spiritualitas, jelaslah bahwa Muhammad sama sekali tidak memahami apa itu spiritualitas. Ia tidak menghargai kehidupan. Ia membunuh siapapun yang tidak berguna baginya. Jika mereka tidak percaya kepadanya, jika mereka tidak membantunya menaklukkan dan menjarah, atau jika mereka tidak bekerja padanya sebagai budak dan kaum dhimmi, ia menyingkirkan mereka.

Perayaan-perayaannya selalu disertai penumpahan darah binatang. Tuhan seperti apakah itu yang menuntut penumpahan darah untuk memuaskan diri-Nya? Saya menghormati Hinduisme karena keyakinan tersebut menghargai kehidupan.

Ritual-ritual diabolik Islam yang dikenal dengan Idhul Adha. Pada perayaan-perayaan ini orang Muslim bersukacita.

 

Inilah “akhirat”-nya Muhammad: keduniawian. Dalam firdausnya, orang diberi pahala berupa kesenangan-kesenangan daging seperti ketamakan, kebobrokan moral dan persetubuhan. Tidak ada perpustakaan-perpustakaan, museum atau pusat-pusat seni dalam firdausnya. Orang yang malang ini tidak dapat menikmati sukacita dalam membaca dan tidak memahami hal-hal yang indah dalam hidup. Ia hanya dapat merasakan sensasi di penis dan perutnya. Nerakanya adalah juga sebuah tempat fisik dimana para pengkhianatnya disiksa dan dipanggang dan diperintahkan untuk makan nanah. Kata spiritual dan spiritualitas tidak pernah muncul dalam Quran, bahkan sekalipun tidak pernah. Bukankah itu mengherankan? Orang Muslim mencari tuntunan dari sebuah kitab yang tidak menyebutkan kata itu sama sekali. Bayangkan anda ingin bermain golf, dan membeli sebuah buku yang tidak menyebutkan kata golf sama sekali di dalamnya.  Saya tidak tahu seberapa jauh kalian orang Muslim mau membodohi diri sendiri, tetapi itulah yang sedang kalian lakukan. Konsep mengenai cinta, belas kasihan, toleransi, pengampunan dan tanggung jawab juga tidak dikenal Muhammad. Ia hanya dapat memahami ketaatan. Sesungguhnya Muhammad adalah seseorang yang mempunyai pikiran yang sangat terbelakang dan primitif.

Bagi para Sufi, ini merepresentasikan sebuah masalah. Alih-alih menerima fakta bahwa Islam sangat tidak mempunyai spiritualitas, mereka mengklaim bahwa Quran mempunyai dua makna yang berkontradiksi. Yang satu adalah makna luar (cangkang) yaitu makna yang kelihatan dan yang lainnya, yang mempunyai makna yang sama sekali berbeda, adalah makna inti yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang secara spiritual telah dimurnikan.

Sudah tentu ini menjadi sebuah sumber kekuatan dan pemuliaan diri sendiri bagi beberapa orang untuk mengajarkan orang lain bagaimana menafsirkan makna-makna tersembunyi dalam Quran. Mereka mendirikan sekolah-sekolah, mengumpulkan murid dan menyebut diri mereka orang-orang suci – yaitu orang-orang yang secara khusus dikaruniai pengetahuan yang tidak dimiliki orang awam. Dalam realita mereka hanyalah sekumpulan penipu yang memperdaya orang lain. Tidak ada pengetahuan rahasia dalam Quran.

Orang-orang Sufi ditentang dan ditolak oleh mayoritas Muslim dan dianggap sebagai bidat. Mereka dituduh membengkokkan makna Quran. Argumen yang diberikan orang Sufi dengan tegas ditolak Quran sendiri, yang berulangkali mengklaim diri sebagai “kitab yang jelas” (Sura 5:15), “mudah dipahami” (Sura 44:58 , 54:22 , 54:32, 54:40) “dijelaskan secara terperinci” (Sura 6:114), “dipaparkan dengan jelas” (Sura 5:16, 10:15) dan  “tidak ada keraguan di dalamnya” (Sura 2:1).  Penulis Quran menginginkan agar kitab itu dibaca dan dipahami secara harafiah. Penafsiran apapun mengenai Quran yang tidak konsisten dengan makna yang kelihatan, harus ditolak. Sufisme bukanlah Islam. Sufisme adalah bidat dan penipuan. Jika Muhammad masih hidup, ia akan membakar orang-orang sufi sama seperti ia membakar para pengikutnya di mesjid Dhu Awan karena seseorang mengatakan padanya bahwa mereka menafsirkan Quran menurut cara mereka dan mereka tidak percaya pada Jihad.

Oleh karena itu, spiritualitas adalah banyak hal. Ia dapat berupa rasa takjub kepada alam semesta (Einstein), atau dapat merupakan penghormatan terhadap kehidupan (Jainisme). Dapat berarti persekutuan dengan Tuhan (Kristen) dan dapat juga berarti melayani sesama (Ibu Theresa). Dapat berupa menghidupkan cinta, belas kasihan, kebaikan, pengampunan, tanggung jawab, pengorbanan dan keadilan (Budhisme dan humanism). Menjadi spiritual (lihat: Being spiritual) berarti menjadi manusia yang berevolusi. Artinya, menyadari akan apa yang baik dan yang jahat, dan memilih yang baik, bukan yang jahat. Mencapai spiritualitas harus menjadi tujuan utama setiap orang. Sebagai seorang yang spiritual, anda melampaui semua nama dan dapat melihat kebaikan dimanapun kebaikan itu muncul.

Richard Dawkins meyakini  tidak seorangpun yang percaya kepada Tuhan boleh dipilih menjadi presiden Amerika Serikat. Ia menyukai Obama, walau ia mengklaim diri sebagai orang Kristen dan percaya kepada Tuhan, karena ia tahu bahwa keyakinan Obama adalah palsu sama seperti akte kelahirannya. Dawkins lebih memilih seorang narapidana, yang akan membangkrutkan Amerika dan membawa kekacauan ke dalam dunia daripada seorang Kristen walaupun orang Kristen itu lebih berkualifikasi. Kualifikasi tidaklah penting, ujar Dawkins, melainkan yang penting adalah keyakinan atau ketidakpercayaan. Bagi saya ini bukanlah spiritualitas. Ini adalah pemikiran Islam yang saya tolak bertahun-tahun yang lalu dan saya tidak akan menerimanya dengan topeng ateisme. Jika anda tidak adil, anda tidak spiritual. Jika anda dapat melihat kebaikan dalam diri orang lain dan menghargai nilai-nilai mereka tanpa memedulikan siapa mereka, apa keyakinan mereka, jender atau ras mereka, maka anda dapat menyebut diri anda orang yang spiritual – manusia yang telah berevolusi.

Ada banyak jalan menuju spiritualitas. Islam tidak termasuk di dalamnya. Apapun yang membuat anda menjadi orang yang lebih baik adalah jalan yang spiritual. Semakin anda menenggelamkan diri dalam Islam, maka jiwa anda akan semakin gelap. Anda dilahirkan untuk membawa terang Tuhan, tapi sekali saja anda mulai mengikuti Muhammad, anda menjadi jahat. Pikiran-pikiran anda menjadi demonis. Kebencian terhadap sesama memenuhi hati anda, dan tidak memberikan tempat bagi kasih. Anda menjadi manifestasi Iblis. Bahkan wajah orang-orang Muslim yang saleh pun menunjukkan kejahatan. Yang mengherankan adalah, orang menjadi jelek ketika mereka menjadi orang Muslim yang saleh. Saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini secara rasional tetapi ini adalah fakta yang telah diobservasi. Lihat saja wajah para teroris. Mereka adalah orang-orang Muslim yang saleh. Atau lihatlah wajah para pemimpin partai Islam. Ada sesuatu yang sangat jahat di mata mereka. Islam adalah kredo yang anti spiritual. Islam tidak membuat anda menjadi orang yang lebih baik. Semakin anda mengikutinya, anda akan menjadi semakin buruk. Islam adalah kredo yang membuat malaikat menjadi setan. Jika saya percaya kepada setan, saya akan mengatakan bahwa Islam adalah rancangan setan untuk menghancurkan dunia ini dan membawa semua orang ke neraka.