Holland C. Tylor Dan ilusi Islam Moderat

Muhammad sama sekali tidak toleran. Ketika itu ia masih berada di Mekkah dan baru mempunyai segelintir pengikut saat ia mulai menghina agama kaum Quraish. Ketika suatu hari ia sedang mengelilingi Ka’ba, datanglah para tua-tua. Mereka mengatakan padanya agar berhenti memecah-belah masyarakat, menghasut anak-anak agar melawan orangtua dan membuat para budak menentang majikan mereka. Mereka memintanya agar tidak menghina dewa-dewa mereka. Muhammad kemudian berhenti dan berkata, “Maukah kamu mendengarkan aku wahai Quraish? Demi Dia yang menggengam hidupku, aku akan membawa pembantaian (kepadamu)”. [Sira Ibn Ishaq, h. 131]

Diposkan oleh Ali Sina pada 29 Juli 2012

Almarhum Presiden Abdurrahman Wahid di kursi roda. Holland C. Tylor berdiri di belakang beliau.

Holland C. Tylor, adalah seorang mualaf (orang yang meninggalkan keyakinannya dan memeluk Islam). Ia mengklaim dirinya sebagai seorang Muslim moderat. Ia bersahabat dengan almarhum Presiden Abdurrahman Wahid yang juga adalah seorang Muslim moderat. Tylor telah mengumpulkan esai beberapa tokoh Muslim moderat yang terkemuka, dan membukukannya. Kumpulan esai tersebut berjudul The Illusion of an Islamic State dan mengklaim bahwa Islam pada dasarnya adalah agama yang moderat, yang dibajak oleh kaum radikal.

Saya telah bertemu Tylor dalam sebuah diskusi melalui surel, dimana saya dan beberapa orang teman (Nonie Darwish dan Andrew Bostom) berargumen bahwa Islam tidak dapat direformasi dan Islam moderat adalah hal yang mustahil. Muhammad adalah seorang yang kejam demikian pula pengajarannya. Oleh karena itu Islam yang sejati tidak akan pernah menjadi agama yang moderat. Di pihak seberang ada Dr. Zuhdi Yasser, Mr. Tarek Fatah, Dr. Daniel Pipes dan Mr. Holland Tylor yang merupakan para pendukung Islam moderat.

Dari situlah saya mengenal Mr. Tylor. Saya mengundangnya untuk membaca buku saya, Understanding Muhammad dan beliau mengundang saya untuk membaca bukunya, lalu kami bertukar pendapat mengenai buku-buku tersebut.

Saya membaca beberapa esai yang terdapat dalam bukunya dan membuat daftar beberapa pertanyaan, kebanyakan berdasarkan pada artikelnya, dan satu tulisan almarhum Presiden Wahid. Pada tanggal 13 Mei tahun ini (2012), saya bertanya pada Mr. Tylor apakah beliau telah siap menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Beliau segera menjawab, “Saya siap”. Keesokan harinya saya mengiriminya pertanyaan saya yang pertama.

Tetapi tidak ada jawaban. Kemudian saya mengirimkan  padanya sebuah surat pendek yang mengatakan bahwa saya sedang menantikan jawaban darinya. Ia menjawab, “Mohon anda bersabar, dan saya akan membalas surat anda berkaitan dengan pertanyaan yang anda ajukan. Silahkan mengirimkan pertanyaan-pertanyaan lainnya jika anda telah menyiapkannya. Saya ingin mengetahuinya”.

Saya mengatakan padanya saya lebih suka mengirimkan pertanyaan-pertanyaan tersebut satu per satu sehingga saya dapat mempublikasikan tukar pendapat kami. Saya mengatakan padanya bahwa ini tidak akan menjadi sebuah perdebatan. Saya tidak akan mengomentari atau menyanggah jawaban-jawabannya. Saya akan menyampaikan sudut pandang saya, berargumen mengapa saya tidak percaya Islam dapat bersifat moderat dan akan mempublikasikannya bersama dengan jawaban-jawaban beliau. Kami akan membiarkan para pembaca yang mengambil keputusan dan beliau akan memberikan kata penutup.

Mr. Tylor tetap bungkam. Pada tanggal 19 Mei saya menulis surat lagi padanya untuk mengingatkan, dan menunjukkan keinginan saya untuk melanjutkan wawancara ini. Saya mengatakan padanya mengapa saya percaya bahwa solusi yang dianjurkannya adalah delusi semata-mata dan menjelaskan bahwa “Ketika seseorang sedang sakit, maka yang terbaik baginya adalah pemberian obat yang tepat. Dengan memberikannya harapan-harapan palsu kita akan lebih memperparah penyakitnya. Umat manusia ini sudah muak dengan Islam. Manjurkah obat yang anda berikan? Pertanyaan ini sangat penting. Apakah kita sedang menipu dunia ini dengan tetek bengek atau dapatkah Islam menjadi moderat dan cinta damai seperti agama-agama lain?”

Saya berkata, “Jika anda sungguh meyakini apa yang anda katakan, inilah saatnya untuk membuktikannya dan mengakhiri masalah yang pelik ini. Jika anda tidak meyakini apa yang anda katakan, maka saya tidak tahu harus berkata apa. Anda tentu mempunyai alasan-alasan jika mempromosikan sesuatu yang anda tahu itu salah”. Saya mengatakan padanya kebenaran tidak akan tersembunyi di balik awan selamanya dan adalah lebih baik jika berpihak pada kebenaran. Saya mendesaknya agar ia mempertahankan klaimnya bahwa Islam yang sejati bersifat moderat atau meninggalkannya.

Mr. Tylor tersinggung. Ia berkata bahwa ia sedang berada di Qatar, menghadiri Brookings Institution’s U.S. – Forum Dunia Islam dan sibuk dengan tugas-tugas lain. Menurutnya surel saya “kontra produktif, berkaitan dengan mencapai tujuan yang telah anda nyatakan (agar saya berespon atau di depan publik saya meninggalkan pandangan-pandangan saya)”. Ia mengatakan bahwa diskusi kami tidak akan menentukan nasib dunia ini atau memengaruhi pandangan banyak orang mengenai Islam. Kemudian ia berkata, “Bagaimanapun, kesopanan akan memfasilitasi komunikasi”.

Saya mengatakan padanya bahwa saya bukannya bersikap tidak sopan kepadanya, tetapi saya kecewa karena setelah membaca bukunya yang agak besar itu, buku yang sama sekali tidak menambahkan pengetahuan baru mengenai Islam terhadap pemahaman saya, oleh karena buku itu hanya memaparkan kembali kekeliruan-kekeliruan yang pernah saya percayai sebelum saya mendapat pencerahan, dan setelah menulis pertanyaan saya yang menyanggah klaim-klaimnya, ia mengabaikan saya. Saya tahu ada internet di Qatar dan saya tidak dapat menerima alasannya. Sekalipun ia menunda membalas saya, Mr. Tylor menuduh saya telah bersikap tidak sopan. Bagi saya itu tidak apa-apa, karena saya ingin mendapatkan jawaban-jawabannya atas pertanyaan saya.

Hari demi hari berlalu dan saya tidak kunjung mendapatkan jawaban. Jadi saya menduga ia mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan saya, dan itu adalah sesuatu yang baik, maka saya mengiriminya pertanyaan kedua. Ia berkata, “Saya telah membacanya, dan saya sedang memikirkan pernyataan-pernyataan anda secara mendalam, dan perspektif di balik pernyataan-pernyataan tersebut”. Ia ingin mengetahui apakah saya telah melakukan diskusi-diskusi sebelumnya dan memposkannya pada situs saya; diskusi yang menggambarkan bagaimana saya menganjurkan untuk memposkan pertanyaan-pertanyaan saya dan jawaban-jawaban Mr.Tylor?

Saya mengatakan padanya bahwa saya telah memposkan banyak debat pada situs saya, tetapi ini bukanlah sebuah debat. Saya akan mempublikasikan pertanyaan-pertanyaan saya dan jawaban-jawaban darinya pada halaman yang sama dan tidak akan memberi komentar lanjutan. Dia boleh menyampaikan kata penutup. Pertanyaan berikut akan berkisar pada topik yang lain.

Pada 18 Juni, hampir sebulan setelah saya mengiriminya pertanyaan saya yang pertama, Mr. Tylor menulis, “Saya telah berkesempatan untuk fokus pada pertanyaan anda yang pertama, dan pada dasarnya telah menyelesaikan jawaban saya. Saya akan memberikan dokumennya kepada anda setelah saya berkesempatan mengulasnya sekali lagi”.

Tetapi saya tidak mendapat kabar darinya lagi. Pada 9 Juli, saya mengiriminya surel dan menanyakan apakah ia telah berkesempatan memeriksa kembali jawabannya atas pertanyaan saya yang pertama.

Ia menjawab, “Saya sedang fokus pada dua proposal sumbangan besar yang diajukan untuk ‘Institut Internasional Untuk Studi-studi Mengenai Quran’ milik kami, tetapi saya tidak melupakan anda”.

Hari ini tanggal 29 Juli, dua setengah bulan kemudian dan saya masih belum mendapatkan jawaban Mr. Tylor untuk pertanyaan saya yang pertama, yang menurutnya telah disiapkannya. Mengapa? Mungkin jawabannya ada di surelnya yang terakhir. Ia sedang mengurus dua proposal sumbangan besar untuk institut Islam miliknya yang menyakinkan orang yang percaya akan mujizat bahwa Islam dapat menjadi moderat. Siapakah yang dapat menyalahkannya karena tidak menjawab saya? Mungkin saya pun akan melakukan hal yang sama jika saya berada dalam posisinya. Namun tidak ada sumbangan bagi orang yang murtad, sekecil apapun kemurtadannya itu. Yang saya dapatkan hanyalah sedikit sumbangan dalam setahun yang dapat membiayai sekitar 20% kebutuhan server. Oleh karena saya sama sekali tidak berkesempatan untuk mendapatkan sumbangan apapun, maka saya tidak dapat menghakiminya.

Berikut ini adalah pertanyaan saya yang pertama. Saya akan mengirim tautan halaman ini kepada Mr. Tylor dan jika mengirim jawabannya, saya akan mempublikasikannya. Saya akan memposkan pertanyaan saya yang kedua beberapa hari kemudian. Saya juga percaya bahwa diskusi-diskusi seperti ini akan menentukan nasib dunia ini dan akan memengaruhi pandangan orang mengenai Islam. Ketika saya mulai menulis menentang Islam pada tahun 1998, banyak orang yang tidak tahu apa-apa mengenai agama ini. Dewasa ini, banyak orang yang sudah tahu dan mereka juga mengetahui detil-detil yang sangat sensasional mengenai kehidupan Muhammad. Dengan bangga saya katakan sayalah yang telah memulainya. Kini “pengetahuan” itu sudah bertumbuh dan tidak dapat dihentikan. Film yang sedang saya kerjakan akan menjadi “paku untuk peti mati Islam”. Satu dekade yang lalu saya mengatakan bahwa akan tiba waktunya saat orang Muslim akan merasa malu jika disebut sebagai orang Muslim. Ini akan segera terjadi. Kebenaran akan memerdekakan umat manusia.

 

Holland yang baik,

Saya telah membaca bagian Pedahuluan dari edisi Inggris dari buku (kompilasi) anda, The Illusion of an Islamic State, yang berjudul  FIGHTING FIRE WITH WATER yang anda tulis, dan Introduksi Editor oleh Kyai Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden Indonesia, yang berjudul, THE ENEMY WITHIN. Saya juga telah membaca beberapa halaman dari para penulis/kontributor buku tersebut. Saya mendasarkan pertanyaan-pertanyaan saya atas apa yang telah anda dan Presiden Wahid tulis.

Sebelum mulai, ijinkan saya menekankan bahwa saya berasal dari latar belakang yang sama. Agama Islam yang dulu saya anut tidaklah berbeda dengan yang anda dan almarhum Presiden Wahid promosikan. Anda dibesarkan di Iran kira-kira pada waktu yang sama dengan saya. Anda ingat betapa liberalnya kita. Tidak satupun omong kosong kaum islamis yang eksis pada waktu itu. Masa-masa itu adalah masa-masa yang indah. Namun semuanya berubah dalam semalam pada tahun 1979. Mereka yang mengenakan rok pendek dan berjingkrak rock and roll dengan lagu-lagu The Beatles dan Elvis, mereka yang disebut “orang Muslim moderat”, mulai mengenakan kerudung dan berjanggut, dan menjadi islamis.

Kemudian saya meninggalkan Iran. Saya tidak mengerti mengapa hal itu terjadi, hingga saya membaca Quran sekitar 15 tahun kemudian, pada tahun 1994. Lalu, semuanya menjadi jelas dan sejak itu saya mulai memahami segalanya. Ketika saya membaca Sira, biografi Muhammad, semua kecurigaan saya menjadi kenyataan. Oleh karena itu, saya mengerti dari mana anda berasal. Saya sudah pernah disana, saya sudah mengalaminya sendiri!

Saya akan jujur pada anda dan memberitahu anda bahwa saya tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini untuk memahami versi Islam anda. Saya sudah mengetahuinya. Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini untuk menantang anda. Tujuan saya adalah agar anda melihat bahwa Islam yang anda promosikan bukanlah Islam yang sesungguhnya, tidak akan pernah berjaya dan hanyalah sebuah penipuan. Semua penipuan adalah berbahaya. Sebagaimana anda menuduh kaum ekstrimis telah berilusi adanya Negara Islam, saya percaya anda pun berilusi akan adanya Islam moderat. Faktanya, Negara Islam ada di dalam ranah kemungkinan. Yang diperlukan kejahatan untuk mengalami kemenangan hanyalah orang-orang baik yang tidak berbuat apa-apa. Bagaimanapun, ilusi adanya Islam moderat secara logika itu mustahil. Jika anda dapat membayangkan sebuah lingkaran yang persegi, mungkin anda dapat mewujudkan ilusi Islam moderat.

Untuk mempermudah kita berdua dan para pembaca kita, (saya akan mempublikasikan wawancara ini di Faithfreedom.org seperti yang telah saya katakan sebelumnya) setiap kali saya akan mengajukan satu atau mungkin dua pertanyaan.

Ijinkan saya memulai dengan tulisan Presiden Wahid. Beliau berbicara mengenai prinsip Mpu Tantular yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” dalam Islam. Dapatkah anda menunjukkan pada saya dimanakah Muhammad (dalam teks-teks suci Islam) berbicara mengenai konsep semacam itu? Keragaman membutuhkan toleransi. Artinya, keyakinan-keyakinan yang berbeda dapat hidup berdampingan, dan itu menuntut adanya kebebasan nurani. Apakah Islam mengijinkan kebebasan semacam itu? Dapatkah orang memilih tidak meyakini Islam atau meninggalkan Islam setelah mempercayainya? Dapatkah orang yang dilahirkan dari orangtua Muslim meninggalkan Islam? Saya tahu apa yang anda pikirkan. Jawaban anda pasti “Ya”. Saya tertarik pada pengajaran Islam mengenai hal ini.

Anda mengutip Sura 109 yang mengatakan, bagimu agamamu dan bagiku agamaku, dan menurut anda ini adalah toleransi.

Jika demikian, ayat tersebut bertentangan dengan banyak ayat lainnya yang menganjurkan intoleransi. Sebagai contoh Sura 3:85, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. Juga Sura 8:39, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah”.

Namun demikian, Maududi, Qutb dan banyak cendekiawan Muslim lainnya mengklaim bahwa tidak ada kontradiksi dan mereka yang berpikir “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” berarti toleransi sebenarnya keliru memahami ayat itu.

Maududi dalam penafsirannya mengenai Quran, menulis:

“Jika Sura dibaca dengan latar belakang ini dalam benak kita, maka kita akan menemukan bahwa Quran tidak diwahyukan untuk mengajarkan toleransi beragama seperti yang dipikirkan orang pada masa kini, tetapi Quran diwahyukan untuk membebaskan orang Muslim dari agama orang-orang yang tidak beriman, dari ritual-ritual ibadah mereka, dan sesembahan mereka, dan untuk menunjukkan kejijikan total dan ketidakpedulian kepada mereka dan mengatakan kepada mereka bahwa Islam dan kafir (tidak beriman) tidak mempunyai kesamaan dan tidak ada kemungkinan untuk berbaur dan menjadi satu entitas. Walaupun pada awalnya ayat ini dialamatkan kepada kaum Quraish yang tidak beriman sebagai jawaban untuk proposal kompromi yang mereka ajukan, namun tidak hanya terbatas pada mereka, namun karena merupakan bagian dari Quran, Allah memberikan pada orang Muslim pengajaran kekal bahwa mereka harus memisahkan diri dalam hal perkataan dan perbuatan dari pengakuan iman orang kafir, dimanapun dan dalam bentuk apapun, dan tanpa ragu harus mengumumkan bahwa mereka tidak dapat berkompromi dengan orang-orang tidak beriman berkenaan dengan urusan agama. Itulah sebabnya mengapa Sura ini terus dibacakan kepada orang tidak beriman dalam kaitan dengan iman. Itulah sebabnya mengapa Surah ini terus dilantunkan ketika orang-orang kepada Surah tersebut dialamatkan … telah mati dan dilupakan, dan orang-orang Muslim terus membacakannya kepada orang-orang tidak beriman pada waktu ayat tersebut diwahyukan, dan orang-orang Muslim terus membacakannya selama berabad-abad setelah mereka semua tiada, sebagai ungkapan kejijikan dan memisahkan diri dari orang-orang kafir serta ritual-ritual yang merupakan tuntutan keyakinan mereka”. [www.usc.edu/dept/MSA/quran/maududi/mau109.html]

Tetapi mengapa bergantung pada Maududi padahal kita kita dapat membaca sha’n-e nodhul dari ayat ini di dalam Sira? Ibn Ishaq mengatakan ketika Rasul mengelilingi Ka’ba, beberapa petinggi Mekkah menemuinya dan berkata kepadanya, “Muhammad, biarlah kami menyembah sesembahanmu, dan engkau menyembah sesembahan kami. Engkau dan kami akan bergabung dalam hal ini. Jika sesembahanmu lebih baik daripada sesembahan kami, maka kami akan mengambil bagian di dalamnya, dan jika sesembahan kami lebih baik daripada sesembahanmu, engkau dapat mengambil bagian di dalamnya”. Maka Allah menurunkan wahyu berkenaan dengan mereka, “Katakanlah, wahai orang-orang tidak beriman, aku tidak menyembah apa yang engkau sembah, dan kamu tidak menyembah apa yang aku sembah; bagimu agamamu dan bagiku agamaku, yaitu jika kamu bersedia menyembah Allah dengan syarat aku menyembah sesembahan kamu, aku tidak memerlukan kamu semua. Kalian boleh memiliki agama kalian, semuanya, dan aku dengan agamaku” [Sira h. 165]

Seperti yang anda lihat, ayat ini sama sekali tidak berbicara soal toleransi. Ini adalah ciri khas orang yang narsisistik untuk menunjukkan penghinaannya terhadap orang-orang yang tidak sepakat dengannya. Dengan pernyataan seperti itu sebenarnya Muhammad mengatakan, “Aku tidak peduli apakah kamu percaya padaku atau tidak. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku!”

Dapatkah anda melihat bagaimana orang Muslim membengkokkan Quran untuk menipu para pendengar mereka? Di negara-negara Islam ayat ini tidak pernah salah ditafsirkan. Hanya ketika para audiens adalah orang non Muslim barulah orang Muslim mengubah makna ayat ini agar Islam terlihat moderat.

Muhammad sama sekali tidak toleran. Ketika itu ia masih berada di Mekkah dan baru mempunyai segelintir pengikut saat ia mulai menghina agama kaum Quraish. Ketika suatu hari ia sedang mengelilingi Ka’ba, datanglah para tua-tua. Mereka mengatakan padanya agar berhenti memecah-belah masyarakat, menghasut anak-anak agar melawan orangtua dan membuat para budak menentang majikan mereka. Mereka memintanya agar tidak menghina dewa-dewa mereka. Muhammad kemudian berhenti dan berkata, “Maukah kamu mendengarkan aku wahai Quraish? Demi Dia yang menggengam hidupku, aku akan membawa pembantaian (kepadamu)”. [Sira Ibn Ishaq, h. 131]

Ibn Ishaq mengatakan, “Ketika Rasul secara terbuka menampilkan Islam seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, kaumnya tidak mundur atau berbalik menentangnya, hingga ia menghina dewa-dewa mereka. Ketika ia berbuat demikian mereka sangat tersinggung dan sepakat untuk memperlakukannya sebagai musuh” [Ibn Ishaq, h. 118]

Toleransi apa? Orang Quraish bersikap toleran. Muhammad sama sekali tidak pernah toleran, sekalipun ketika ia masih bukan siapa-siapa. Sejak semula dia sudah kejam.

Apakah anda dapat menghirup adanya toleransi dalam ayat ini? “Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa(Sura 9:66)

Salam hormat

Ali

 

Artikel terkait: Ilusi Mereformasi Islam