Aku Depresi

Malangnya, kepercayaan kepada dusta Muhammad membuat semua orang depresi. Dengan mengikuti orang yang gila, semua orang Muslim telah menjadi gila. Kegilaan ini mewujudkan diri dalam berbagai bentuk. Sulit sekali menemukan orang Muslim yang sehat emosinya. Mereka mempunyai harga diri yang rendah, malu atau depresif, narsistik atau paranoid, atau mengalami semuanya sekaligus. Kenyatannya, orang Muslim menderita lebih banyak gangguan mental dan emosi daripada orang lain.

Diposkan oleh Ali Sina, pada tanggal 18 Juli 2012

 

Kepada: Ali Sina,

Sekilas kisah saya mungkin akan terlihat seperti drama biasa yang dialami remaja. Tetapi jika anda memperhatikannya dengan seksama, anda akan melihat betapa saya sedang menghadapi masalah yang besar: kehancuran.

Tunggu dulu! Saya tahu pada pandangan pertama ini akan kelihatan seperti apa. “Seorang gadis Muslim tergila-gila pada seorang jejaka Muslim dari mesjid dan tidak tahu bagaimana mengatasi perasaannya”.

Saya jamin, bukan itu masalahnya. Masalah yang saya hadapi sama sekali tidak berkaitan dengan gejolak masa remaja. Saya mengetik surat ini dengan cepat karena ada hal-hal yang sangat mendesak dan saya harus menyelesaikan tulisan ini sebelum ibu saya bangun dari tidur siangnya. Jika anda membutuhkan klarifikasi, anda dapat menulis surel balasan kepada saya agar saya dapat dipuaskan dengan nasihat anda.

Saya sedang menderita depresi dan saya tidak tahu dengan jelas apa yang membuat saya merasa demikian pada sekitar akhir tahun 2011. Orang-orang berpendapat apa yang saya alami adalah karena ketidakseimbangan kimiawi dalam tubuh saya. Saya kira, saya stres karena nilai-nilai saya yang jelek di sekolah. Tetapi kini saya tahu saya stres karena takut api neraka yang akan membakar jiwa saya.

Saya akan berusaha mempersingkat bagian ini agar saya dapat menceritakan poin yang utama. Namun saya harus memaparkan yang berikut ini: Islam telah merusak saya secara psikologis. Kerusakan ini sedang dipulihkan tetapi beberapa bekas lukanya tidak akan pernah hilang. Dapat dikatakan saya telah meninggalkan Islam tetapi ada sebagian dari Islam yang tidak akan pernah meninggalkan saya. Gagasan bahwa saya harus berbagi suami dengan 72 perawan di akhirat, gagasan bahwa orang-orang non Muslim yang saya kenal dan saya jumpai di sekolah setiap hari akan masuk neraka, gagasan bahwa para malaikat akan memukuli saya di kuburan saya dan menghancurkan saya sampai remuk sampai tulang-tulang rusuk saya akan saling bertindihan hanya karena saya tidak bersujud kepada sesembahan yang narsistik, Allah menghina saya oleh karena semua hal yang remeh temeh yang telah saya lakukan dalam hidup saya, deskripsi grafis tentang neraka yang terus menerus diulangi kepada saya selama bertahun-tahun sejak saya masih sangat kecil … semua itu telah mengacaukan pikiran saya dan mengganggu rasa keamanan saya. Tidak peduli apakah semua orang di dunia ini mengasihi saya, karena murka Allah di akhirat karena saya telah melakukan kesalahan sudah tentu akan merusak ketentraman hati.

Pada puncaknya, saya mempelajari sangat banyak hal dengan terlalu cepat. Saya berpikir terlalu banyak untuk seorang remaja berusia 15 tahun, hingga saya dijuluki filsuf kecil. Saya mengatakan hal ini bukan untuk menyombongkan diri, tetapi saya ingin anda mengerti bahwa menjadi orang yang terlalu pintar membuat saya mengalami keterasingan mental. Kebanyakan remaja tidak memusingkan isu-isu dunia seperti saya. Kadang-kadang saya berharap saya tidak seperti ini karena nampaknya mengalami pencerahan yang seperti ini bagaikan mendapat kutuk, dan ketidakpahaman kelihatan seperti kenikmatan yang ingin saya dapatkan. Tetapi saya sadar akan kebenaran mengerikan yang bernama Islam, dan saya juga sadar akan perjalanan panjang yang harus saya lakukan. Saya menganggap diri saya seorang agnostik.

Ada seorang anak laki-laki yang sekelas dengan saya di sekolah, dan kami bersembahyang di mesjid yang sama. Saya perhatikan ia menunjukkan tanda-tanda orang akan murtad. Kami berdua mengajukan pertanyaan yang mendalam mengenai Islam kepada sheikh. Sudah tentu kami mendapatkan jawaban yang sangat tidak memuaskan. Saya bahkan pernah berbincang sebentar dengannya mengenai Islam di sekolah. Saya bertanya padanya apakah agama itu kadang membingungkannya. Ia berkata segala sesuatunya tidak masuk akal, tetapi yang dapat dilakukannya hanyalah percaya kepada Allah.

Ia berkata kadangkala ia merasa ingin bunuh diri sama seperti saya. Kami berbincang lebih banyak lagi dan saya melihat ia pun mengalami banyak ketakutan mental dan emosi sama seperti saya, misalnya kekerasan dan pengasingan. Secara harafiah hanya dialah yang saya miliki sekarang. Dan karena itu saya mulai menyukainya. Jika ia benar-benar bingung soal Islam, maka menurut saya dia pun membutuhkan saya agar kami berdua dapat saling mendukung.

Dua hari yang lalu secara tidak sengaja saya mengatakan pada orangtua saya bahwa saya tidak percaya pada Islam. Mengerikan sekali ketika kemudian saya mendapati bahwa kasih orangtua Muslim terhadap anaknya ternyata sangat bersyarat. Mereka mengancam akan mengusir saya dari rumah dan tidak peduli apa yang akan saya lakukan pada diri saya sendiri. Jadi, perlu waktu berjam-jam untuk berpura-pura mengatakan bahwa saya tidak tahu apa yang telah saya katakan dan bahwa saya percaya lagi kepada Islam.

Sekarang saya harus berpura-pura menjadi orang Muslim selama beberapa tahun ke depan sampai saya dapat keluar dari rumah. Lalu saya ingin bebas. Tetapi saya ingin dan harus menikah jika saya sudah dewasa, dan harus dengan orang Muslim. Sudah tentu saya tidak dapat menikahi seorang Muslim karena kemudian saya pun harus berbohong padanya dan terjebak dengan Islam seumur hidup saya. Apalagi tidak mungkin bagi saya untuk menikahi seorang non Muslim.

Jadi ide saya kedengarannya benar-benar gila, dan untuk itu saya membutuhkan nasihat anda. Nah, saya sedang berpikir … soal cowok yang saya ceritakan pada anda, saya menyukainya dan jika saya dapat meyakinkannya bahwa Islam itu tidak benar, kami dapat menikah dan pergi jauh agar orangtua kami pun senang pada kami. Oleh karena kami berdua “Muslim”, mereka tidak akan mencurigai apapun. Tetapi ini hanya akan berhasil jika ia setuju dengan saya. Jika ia tidak setuju, saya takut akan masa depan saya. Saya melakukan hal ini bukan karena hormon-hormon remaja saya yang sedang menggila, tetapi saya berusaha tetap waras dan saya sedang mempersiapkan masa depan saya, dan ini adalah satu-satunya solusi yang dapat saya pikirkan. Bahkan jika seandainya kami tidak cocok, kami dapat berteman saja, menikah di hadapan keluarga kami, tinggal serumah (namun tidak sekamar) hanya untuk meyakinkan orang, dan mempunyai hubungan seperti yang kami inginkan.

Akhirnya, ada satu halangan yang menghambat rencana saya, yaitu imam di mesjid kami sedang mencuci otaknya, juga remaja lainnya. Imam tersebut membingungkannya dan saya harus berbicara padanya sesegera mungkin sebelum terlambat untuk membalikkan kerusakan yang terjadi. Saya ingin menjelaskannya tetapi ini kisah yang panjang dan saya tetap ingin mempersingkat surat ini.

Saya sungguh ingin mengetahui apa pendapat anda dan bagaimana saya harus menghadapi situasi ini dan tips-tips apa yang dapat anda berikan kepada saya. Terimakasih karena telah membaca surat saya, dan saya ingin anda mengetahui, walau mungkin anda telah mendengar hal ini berulangkali: anda telah menolong saya meninggalkan Islam. Saya tidak memberi banyak komentar pada artikel-artikel anda tetapi itu tidak berarti saya tidak membacanya. Saya menghargai apa yang anda lakukan. Anda menolong agar umat manusia beralih ke dunia yang lebih baik, kepada keadaan yang lebih baik.

-M.A

 

M.A. yang baik (atau mungkin saya juga harus menyebut anda filsuf kecil),

Kecerdasanmu melampaui umurmu. Seringkali orang yang lebih cerdas memiliki kepekaan lebih. Salah satu karakteristik masa remaja adalah segala sesuatunya kelihatan lebih dramatis. Masalah-masalah sederhana yang mempunyai solusi-solusi mudah, bagi remaja kelihatannya sangat sulit.

Berpikir soal bunuh diri pun sesuatu yang normal yang dialami remaja. Tetapi syukurlah hanya sedikit yang melakukannya. Anda tidak perlu terlalu memikirkannya. Ketahuilah dalam usiamu sekarang, banyak masalah yang bagimu kelihatannya nyata, tetapi sebenarnya tidak. Dan jika memang nyata, sesungguhnya tidak signifikan. Saat anda dewasa, anda akan menghadapi masalah-masalah yang riil.

Hidup tanpa masalah adalah sebuah ilusi. Bayangkanlah kehidupan ini sebagai sebuah permainan, misalnya sepakbola atau permainan apa saja. Kesenangan permainan itu adalah menghadapi rintangan dan mengatasinya. Jika tidak ada rintangan, tidak ada permainan. Tidak ada orang yang mau memainkan permainan seperti itu. Demikian juga dengan kehidupan. Kegembiraan dan keberhasilan ada dalam keberhasilan mengatasi rintangan, bukan karena tidak ada rintangan. Hidup ini penuh dengan rintangan dan masalah. Yang penting adalah menangani semua itu dengan keyakinan.

Nampaknya alam ingin mengatakan pada kita, sejak saat kita dilahirkan, dengan semua rintangan dan kesakitan yang dilemparkan kepada kita, bahwa hidup di dunia ini adalah sebuah perjuangan. Yang namanya sukacita itu tidak ada. Ada kesulitan dan masalah jeda dimana tidak ada masalah. Kitalah yang menentukan dan membuat jeda- jeda tersebut bermakna ketika masalah tidak banyak dan bersukacita.

Malangnya, kepercayaan kepada dusta Muhammad membuat semua orang depresi. Dengan mengikuti orang yang gila, semua orang Muslim telah menjadi gila. Kegilaan ini mewujudkan diri dalam berbagai bentuk. Sulit sekali menemukan orang Muslim yang sehat emosinya. Mereka mempunyai harga diri yang rendah, malu atau depresif, narsistik atau paranoid, atau mengalami semuanya sekaligus. Kenyatannya, orang Muslim menderita lebih banyak gangguan mental dan emosi daripada orang lain.

Anda tidak mengatakan pada saya dimana anda tinggal. Jika anda tinggal di negara Barat anda mempunyai lebih banyak pilihan daripada jika anda tinggal di negara Islam. Bahkan di negara Islam pun anda bukannya tanpa pertolongan. Di usia 15 tahun saya tidak terlalu memikirkan pernikahan. Anda masih mempunyai 10 tahun ke depan sebelum memikirkan soal pernikahan. Menurut pandangan pribadi saya, usia terbaik untuk menikah adalah pada akhir 20-an (mendekati 30 tahun). berdasarkan statistik, ada banyak perceraian di kalangan orang-orang yang menikah di usia muda.

Anda beruntung karena anda cerdas. Ini berarti lebih besar kesempatanmu untuk menjalani hidup yang bebas. Anda telah bebas dari kebobrokan Islam. Tidak ada setan di langit, tidak ada neraka dan tidak ada malaikat sadis di kubur yang dapat menakutimu lagi. Yang sudah anda capai sebagai seorang gadis berusia 15 tahun sudah sangat banyak, saat lebih dari jutaan orang dewasa, dan banyak di antara mereka adalah orang-orang yang berpendidikan dan telah sukses masih terjebak dalam jaring dusta-dusta gila.

Anda takut akan jebakan fisik anda. Itupun adalah ketakutan yang tidak mendasar. Jauh lebih mudah mematahkan rantai-rantai fisik daripada rantai psikologis. Anda telah membebaskan diri anda secara psikologis. Mencapai kebebasan fisik anda akan jauh lebih mudah.

Kunci kebebasan anda adalah kemandirian. Saat ini anda harus fokus pada studi anda. Sedapat mungkin mendaftarlah ke perguruan tinggi yang terbaik dan dapatkan pendidikan terbaik sesuai kemampuanmu. Anda cerdas; jangan berpuas diri dengan gelar yang tidak tinggi. Tempatkan cita-citamu setinggi langit. Jika anda telah berpendidikan anda akan dicari-cari orang di seluruh belahan dunia ini untuk ditawari pekerjaan. Semua pintu akan terbuka untukmu. Ini akan membawamu kepada kemandirianmu.

Jangan menikah di usia muda. Pernikahan bukanlah jalan keluar dari masalah-masalah di rumah. Solusinya adalah kemandirian. Untuk sekarang, gantung dulu topi filsufmu dan kenakan topi pelajarmu. Kejarlah sains. Belajar adalah kunci kebebasanmu. Jika anda telah memiliki pekerjaan yang baik, hidup mandiri dan dapat menafkahi dirimu sendiri, tidak seorangpun dapat mendiktemu untuk apa yang harus kau lakukan dengan hidupmu atau siapa yang harus kau nikahi.

Anda harus menyadari bahwa kontrol orangtua atas anak-anak mereka akan berakhir seiring dengan waktu. Kontrol mereka akan mencapai suatu tahap dimana keseimbangan kekuasaan akan secara total dibalikkan dan orangtua akan bergantung pada anak-anak mereka. Dalam sekitar 10 tahun, bila anda telah memiliki karir sendiri dan dapat menafkahi diri sendiri, anda dan orangtuamu akan mencapai kekuasaan yang setara. Saat itu mereka tidak dapat lagi bersikap seperti bos terhadap anda. Sejak saat itu, setiap hari, anda akan semakin mendapatkan kekuasaan sedangkan mereka akan semakin kehilangan kekuasaan. Hirarki kekuasaan ini yang kini bagimu kelihatannya seperti penindasan akan dibalikkan. Berilah kesempatan kepada waktu. Dalam satu dekade, tidak satupun dari masalah-masalah ini yang sekarang kelihatannya menakutkan, yang masih eksis. Semua itu akan menghilang secara bertahap, sama seperti gunung es yang meleleh di bawah sinar matahari.

Fenomena aneh lainnya adalah semakin muda usiamu, waktu terasa semakin panjang. Bagi orang yang lebih tua, waktu berlalu dengan cepat, sedangkan bagi orang muda waktu serasa berjalan sangat lambat. Tetapi 10 tahun tidaklah banyak jika engkau membandingkannya dengan sisa hidupmu.

Soal teman sekelasmu itu, sedapat mungkin anjurkan dia untuk membaca artikel-artikel saya agar ia juga menyadari penipuan Islam.

Ketahuilah juga bahwa karakter orang belum terbentuk di usia muda. Engkau dan temanmu akan mengalami beberapa perubahan yang sangat mendasar dalam 15 tahun ke depan dan akan menjadi orang-orang yang sangat berbeda. Jadi jangan menjalin hubungan yang sangat serius dengan lawan jenis dalam usiamu sekarang. Kemungkinan besar anda akan jatuh cinta beberapa kali sebelum anda menemukan teman hidup yang tepat. Ada banyak ikan di laut. Saat ini, fokus anda bukanlah mencari teman hidup, tetapi belajar dan menjadi yang terbaik dengan segenap kemampuanmu.

Untuk segala sesuatu ada waktunya. Bagimu, saat ini adalah waktu untuk belajar. Segala sesuatu yang lainnya dapat menyusul. Rencanakan hidupmu dengan tepat dan anda akan mempunyai hidup yang sangat bahagia. Jangan belajar hanya untuk mengejar gelar diploma, tetapi demi mengejar ilmu pengetahuan. Gelar diploma tidak akan memberikanmu pekerjaan, melainkan keahlianmu.